Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Pesan Untuk Teman

Posted by thinker on 19/02/2009


Siapakah teman? Mereka yang mengenal diri saya, baik secara langsung mahupun secara tidak langsung. Baik yang pernah bertatap muka, atau hanya sekadar berkomunikasi di dunia maya. Ada yang tersengih di ruang sudut sana, mengenali diri ini, namun saya belum mengenal pasti siapakah dia, mungkin dia juga adalah teman saya. Dengarkanlah pesan ikhlas dari temanmu ini.

Dedikasi Untuk Teman

Dunia ibarat roda,
berputar pada paksinya,
sisi mana pun ia berubah,
ia tidak terlepas dalam hisabNya.

Sejumlah masalah engkau taburkan,
pilihan mengeluh ataukah redha,
kerana yang pasti bukan sekadar pasrah,
namun ikhtiyar dan usaha untuk berubah,

Teman Yang Sedang Imtihan

Petang ini, saya mendapat khabar gembira. Teman akrab saya memberitahu bahawa dia telah mendapat keputusan “A” dalam peperiksaannya (bidang medic). Lebih dari itu, dia merupakan penerima “A” tunggal dari sejumlah mahasiswa lainnya. Tahniah teman. Ada yang membuat saya lebih bangga akan dirinya. Teman saya bukan saja bagus dalam pelajarannya, malah dia aktif dalam berdakwah dan menyampaikan dengan lisannya tentang kebenaran di tengah-tengah masyarakat. Berjumpa dengan patient-nya (pesakitnya), tidak lepas dengan dakwah. Berinteraksi dengan room-matenya, dia juga akan menyelitkan perbincangan umat. Di tengah-tengah komuniti kampusnya juga, dia berusaha untuk menghidupkan nuansa dakwah menuju takwa orang-orang beriman.

Bagi teman-teman yang lain, yang akan menempuh peperiksaan sama ada esok, lusa, minggu depan atau bulan hadapan… ketahuilah, bahawasanya peperiksaan tersebut bukanlah matlamat (vital issue) terbesar bagi kita sebagai hamba Allah SWT di muka bumi ini. Nasehatku, belajarlah dengan tekun dan bersungguh-sungguh agar dapat menjawab segala soalan-soalan.

Namun, ada hal lain yang perlu kalian sedari, selain peperiksaan yang kalian sedang tempuh itu. Apakah tidak terlintas di hati dan dada-dada kalian tentang tugas yang belum pernah selesai sejak kalian menjadi manusia yang berakal?

Teman Yang Sedang Bekerja

Saya pernah bekerja mulai dari jam 6 pagi. Bangun pagi seawal 5 pagi, solat subuh, lalu bingkas menerjah kabus pagi menuju Ibu Kota. Selesai kerja, sekitar jam 12 tengah hari. Setelah itu, sambung masuk kerja sebagai banquet di Hotel 5 Bintang. Semuanya adalah semata-mata untuk mencari nafkah yang halal. Penat, letih, capek… semua kalimat tersebut belum dapat menggambarkan situasi saya pada saat itu. Badan yang lemah, fikiran yang selalu tidak fokus, kerana waktu yang hanya dipenuhi dengan tuntutan materi. Memori itu, belum pernah pudar, kerana ia baru berlaku 6 tahun lalu setelah selesai menduduki peperiksaan SPM.

Bagimu teman, yang sedang melalui hal yang sama saat ini. Janganlah sedih, gusar dan punah hati. Apatah lagi berasa kecewa dengan apa yang kalian hadapi. Di sisi lain, janganlah kalian fikir, bahawa kerja dan pangkat yang kita miliki di dunia ini adalah kekal, kerana ia hanyalah bersifat sementara. Saya jadi teringat lirik nasyid yang pernah bersenandung dalam diari hidup saya satu ketika dulu, tanpa saya ketahui siapakah penyanyinya;

Hidup di dunia
Banyak pancaroba
Mujahadah kerana-Nya ….

Lagu ini benar! Hidup di dunia memang banyak pancaroba. Sana sini, masalah. Dalam sepuluh perkara, mungkin hanya satu perkara suka, dan selebihnya adalah duka. Kalaupun ada 9 perkara suka, dan yang satunya duka, mungkin hanya untuk segelintir manusia. Kadang-kadang, jarang-jarang.

Wahai teman yang sedang struggle bekerja, apakah kalian pernah berfikir, apakah mujahadah terbesar sebagai hamba Allah di muka bumi ini?

Teman Yang Sedang Dalam ‘PeNCaRiaN’

Satu hari, setelah selesai solat, saya membuat para pelajar saya merasa kaget sebentar, dek kerana gaya tazkirah yang agak berbeza dari saya dengan para ustaz yang lain. Membuat manusia berfikir, itu adalah salah satu gaya dan karakter saya.

“Aiyuhas Syabab, Anak-anak dan adik-adikku sekalian. Bayangkanlah, suatu ketika kalian daripada rumah menuju ke sebuah hotel yang sangat mewah berstatus 10 Bintang (ada ke?). Kalian mempunyai objektif dan cita-cita yang hendak diraih apabila menjejakkan kaki ke dalam hotel. Mungkin saja, kalian ingin menikmati percutian yang mewah dengan pelbagai kemudahan yang ada di dalam hotel tersebut. Kolam renang yang asyik untuk kita renangi. Makanan dan minuman mewah khas untuk orang kaya sejati (haha). Terserah kalian mahu apa untuk ke sana.”

“Tapi… tatkala kalian melangkah masuk ke dalam hotel…jeng, jeng, jeng… Keadaan hening. Gelap dan malap. Lampu di dalam hotel tidak berfungsi. Entah kenapa (walau tak logik, buat-buat logik). Bayangkan ketika kalian berjalan di dalamnya, apakah mudah untuk mencapai segala benda yang diingini, cita-cita yang hendak diraih semuanya tadi? Tap! kaki tersandung. Aduh! kepala terhantuk. Hah! Langkah kita dihentikan seketika. Mengapa sedemikian sukar untuk menunaikan hajat dan cita-cita yang diimpikan?”

Apakah cita-cita seorang yang beriman? Tentu saja untuk meraih jannah yang kekal abadi. Dan apa yang pasti, jannah tidak dapat diraih, tatkala kita tidak dapat melihat jalan untuk menempuhnya. Kita berasa gelap melihat liku-liku kebenaran. Kita menjustifikasikan segala kebenaran dengan alasan konyol yang tidak berandal. Kalian beralasan sukar apabila disahut. Kalian beralasan lambat dan retorik, padahal jalan itulah yang ditempuh para nabi. Segala macam alasan yang kalian utarakan tersebut bukanlah bukti kesungguhan kalian untuk mencari kebenaran sebenarnya, melainkan hanyalah bukti kalian untuk menjauh dari hakikat kebenaran sejati.

Pesanan Terakhirku

Allah SWT menciptakan alam semesta berserta segala isinya dengan rahmat dan kasihnya. Allah SWT juga ‘bertitah’ di dalam al-quran dengan kalam sucinya dengan aturan lengkap sebagai manual bagi sekalian hambanya. Namun, kenapakah masih banyak manusia yang memilih manual selain manual dari Sang Pencipta? Ketika syaitan bersenandung dengan bisikannya, tidak ketinggalan para pengemban dakwah yang ikhlas menuangkan citra kasih dan sayangnya melalui dakwahnya. Tinggal kalian saja yang memilih, sama ada memilih bisikan syaitan ataukah menerima risalah suci kalam ilahi? memilih sesat dalam gelap gelita atau berpedoman dengan Al-quran dan sunah?

Wahai teman yang sedang dalam imtihan, sedang bekerja dan… yang sedang dalam ‘pencarian’, mulakanlah dengan mempersoalkan iman kalian. Berfikir dan merenung tentang kejadian alam, adalah kunci kepada keimanan yang benar (yang rasional). Apakah mungkin Tuhan Sang Perkasa, menciptakan manusia dengan sia-sia tanpa adanya pedoman? Tentu saja tidak! Oleh sebab itu, kita punya rasul sebagai ikutan dan panutan dalam segala hal.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab[33]: 36)

Wallahu’alam…

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: