Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Pengalaman Di Kota Putri (Part 1)

Posted by thinker on 27/07/2008

26 Jun 2008, aku ke bandung. Bukanlah tarikh keramat untuk diagung-agungkan, cuma sekadar ingin menuangkan sedikit pengalaman sepanjang aku berada di sana. Aku ke sana dalam rangka untuk menghadiri majlis pernikahan teman baik. Sambil bercuti dan menikmati keindahan alam di daerah yang berbeda. Moga perkongsian pengalaman ini dapat memberi sedikit walau tidak banyak iaitu ilmu dan pengajaran yang membekas kepada kita. Kumulai dengan membaca basamalah, semoga tulisan ini bermanfaat untuk semua.

Bandung Kota Putri

Itulah julukan yang diberikan kepada aku oleh seorang penduduk di sana. Ini kerana, wanita-wanita di sana kelihatan cantik-cantik sekali. Jadi, jika sesiapa yang mendambakan istri yang cantik ala-indonesia maka Bandung adalah destinasinya. Tapi, bukan untuk yang mendambakan istri yang cantik ala-Bolliwood, takut nanti salah destinasi pula. Sekadar gurauan, yang tidak berlebihan. Tetapi yang aneh, sekitar 7 hari aku di sana, tapi aku masih belum bisa tertarik dengan kecantikan wanita-wanita Bandung. Aneh Ya…? Adakah aku tidak normal? haha, mungkin tidak. Bagi aku, kecantikan adalah sangat relatif. Bagi orang sesuatu itu cantik, tapi mungkin tidak bagi aku. Ini kerana, ia adalah materi dan tergantung bagaimana kecantikan itu menduduki standard yang difikirkan manusia. Tapi, apa yang penting dan tidak dinafikan oleh semua dalam bab memilih sang kekasih, adalah dengan menilai agamanya terlebih dahulu barulah nantinya ukur yang lainnya. Ah, tidak usah aku ungkapkan hadithnya di sini, kerana bagi aku hadith berkenaan tentang hal tersebut sudah maklum oleh semua (Al-Ma’lum Fi Ad-Deen)

Tanda “Jauhi Narkoba” Di sana-sini

Apa maknanya? Setelah melihat sign tersebut di sekitar ibu kota dan pinggiran jalan tentang sign tersebut, aku jadi penasaran. Apakah narkoba adalah salah satu bentuk konsumsi yang populer oleh penduduk di sini, sehingga membuat pihak penguasa membuat sign tersebut terlalu banyak, dengan tujuan agar masyarakat sedar bahawa narkoba itu bahaya, bahaya dan bahaya. Ya, itu motifnya, aku yakin! Lalu aku bertanyakan hal tersebut kepada teman aku, yang memang tinggal dan bekerja di sana. Sebagai penduduk di sana, beliau tentulah tahu sejauh mana kultur sosialnya terutama dalam masalah yang menjadi penasaran dalam benak aku kini. Memang benar, kota putri tersebut bukanlah suatu tempat yang selamat bagi sesiapa yang tidak mempunyai pedoman dan kekuatan spiritual. Ini kerana, berdasarkan pengalaman teman aku di sana, dan pernah belajar di UNISBA (Universiti Bandung), 2 dari teman 3 beliau sudah rosak akibat dari konsumsi narkoba. Sedih, tapi itulah hakikatnya. Pengalaman mengajar kita, betapa kita perlu senantiasa dekat dengan orang-orang soleh. Jika kita malah jauh, maka kita ibarat kambing yang terlepas dari kawanannya. Maka, kita bakal menjadi mangsa Sang Serigala. Dan serigala itu adalah sistem yang diterapkan di tengah-tengah umat kini, iaitu kapitalisme-sekulerisme. Ya Allah, lindungilah hamba-hambaMu ini dari segala macam bisikan syaitan, dan terhindar dari ajakannya.

Bandung, Kota Belanja

Itulah ungkapan yang ingin aku luahkan. Bagi sesiapa yang ingin ke sana, jangan hanya berbekalkan tiket penerbangan dan hotel saja, kerana anda pasti akan merasa iri dengan orang sekitarnya. Iri tentang apa? Ya tentu dengan belanja dong. Segala macam pakaian, seluar, jaket, kasut, baik yang baru yang bekas semuanya ada. Tinggal hanya kita yang memilihnya. Samaada berkenan atau tidak. Jika tidak berkenan, jangan berhenti di situ saja, carilah tempat-tempat lain yang belum anda kunjungi. Satu tempat yang aku ingat dan pernah kunjungi adalah Pasar Baru. Ia bukan sebuah pasar seperti di Jalanan. Tapi sebuah Pasar di dalam bangunan. Manakala jualannya bukan ikan, sayur atau buah-buahan. Tapi ia adalah Pasar yang berisi beraneka ragam layaknya sebuah shopping center.

Usai membeli beberapa aksesoris untuk diberikan kepada kaum kerabat, maka legalah hatiku seketika. Tumpuan aku setelah itu adalah… cuba teka, Buku, buku oh buku. Grammedia, ya itulah kedai buku yang paling populer di sana. Ini kerana, kedai buku tersebut selalu update senarai buku-bukunya. Harganya tidaklah mahal, dan jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di Malaysia. Namun, aku hanya membeli satu buku sahaja di Grammedia yang bertajuk, “Membaca Pikiran Orang Seperti Membaca Buku” karangan Gerald I. Nierenberg, Hendry H. Calero ” yang telah aku hadiahkan kepada teman aku, setibanya aku di sini. Buku itu bagus, aku usai membacanya semasa di pesawat terbang. Aku lebih gemar berbelanja buku di Palasari setelah diberitahu oleh teman aku bahawasanya buku-buku di Palasari jauh lebih murah berbbanding di Grammedia. Potongannya menjangkau 30%. Bagus kan. Dengan Rp. 200 000, kita bakal mendapatkan buku-buku yang bagus dalam kuantiti 5-10 buku. Bukan nipis, tapi semuanya tebal belaka. Buku yang banyak membantu dalam penulisan aku adalah Indeks Al-Quran, Dr. Azharuddin Sahil, Pustaka Mizan. Sekitar 2 hari berturut-turut aku ke Palasari. Waduh, hasilnya sangat banyak buku yang aku beli. Ibarat wanita yang teruja dengan barang kemas. Aku sangat teruja dengan buku-buku serta karya-karya Indonesia. Sungguh, Indonesia sangat ramai penulisnya.

to be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: