Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Pengalaman Di Kota Putri (Part 2)

Posted by thinker on 10/08/2008

Alhamdulillah, baru kini sempat menulis kembali setelah 2 minggu lebih tidak menulis. Afwan teman-teman, kerana membuat kalian penasaran tentang diary-ku kali ini. Tidak rumit memikirkannya, lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Cuma perlu waktu dan konsentrasi yang cukup sederahana bagi membantu mutu setiap penulisan. Walaupun tulisan kali ini adalah berbentuk cerita pengalaman, tapi saya masih berusaha menjaga setiap frasa kata agar boleh dibaca oleh setiap pengunjung blog peribadi saya ini. Maklum, sudah banyak yang “memandang”, hehe. Lupakanlah, marilah kita kembali menelusuri kembali pengalamanku di bandung lepas agar boleh dikongsi bersama. Moga ia cepat-cepat boleh dihabiskan dalam satu malam ini. InsyaAllah…

Persahabatan Yang Tak Kulupakan
Dalam relung sejarah hidupku, tidak akan kulupakan seorang yang telah menjadikanku sebagai seorang sahabat dalam satu perkenalan sahaja. Benar-benar sahabat. Teman, walau tidak perlu kusebut namamu di sini, engkau telah membuat diriku benar-benar mengerti sebuah makna persahabatan yang berakar akidah. Pada saat-saat aku butuh teman di sana, engkau telah hadir untuk membantuku dalam segenap penjuru apa yang kuperlukan. Engkaulah yang menghantarku untuk belanja di Palasari, mencari tempat penukaran wang untuk berbelanja. Apalah erti buku yang kuberikan kepadamu, dibandingkan dengan jasamu terhadapku. Sungguh, derap-derap keikhlasanmu menusuk ke dalam rongga-rongga pernafasanku, lalu setiap tubuhku merasainya sebagai suatu kenikmatan mempunyai sahabat sepertimu. Sungguh, jika aku punya pilihan di antara dua pilihan, iaitu samaada terus tinggal di sana selama sebulan lagi, atau pulang ke Malaysia, maka aku akan memilih lebih lama di sana untuk merasakan nikmatnya persahabatan bersamamu. Andai kau membaca tulisanku ini, ketahuilah bahawa aku sangat menghargai persahabatan kita. Moga kita bakal ketemu lagi.

Dinamika Kota Bandung

Renungkan firman Allah SWT:

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS Al-Mulk[67]: 15)

Maha Agung Allah SWT dengan kebenaran firman-firmanNya. Benarlah firman Allah SWT di atas, bahawa karunia rezki yang diberikan kepada para makhluknya amatlah luas, maka bertebaranlah mencari rezki-rezki tersebut dengan cara-cara yang sholeh iaitu dengan cara yang dihalalkan oleh Allah SWT, dan bukan sebaliknya. Sungguh, celakalah bagi mereka yang memilih yang haram, dan berdalih yang tidak ada alasan syariat. Sungguh, dalam perkiraanku Allah SWT telah melimpahkan rahmat dan karunianya yang melimpah ruah di Bandung yang berupa rezki teramat banyak dan luas. Mulai dari yang yang kaya, pertengahan, miskin dan yang paling rendah, semuanya mendapatkan rezki itu dalam pelbagai macam dan aneka rupa cara usaha untuk mendapatkannya.

Teringat aku kepada satu komentar dari seorang sahabat, dia pernah mengatakan kepadaku bahawa dia pernah terbaca bahawasanya seorang pemikir barat pernah penasaran tentang kekayaan alam yang di dunia ini kebanyakannya terletak di tanah-tanah umat islam. Mengapa? Maha Suci Allah dengan kebesarannya, hanya Dialah yang Maha tahu di atas segala-galanya. Adapun kita sebagai makhluknya hanya mampu berfikir tentang kejadian alam ini untuk memperkuat keyakinan kita tentang kekuasaan Allah dalam menjadikan alam semesta ini dengan segala keteraturannya. Ada Bumi yang penuh dengan misterinya, ada langit yang tidak tahu dimana atapnya, ada galaksi-galaksi yang tidak tahu bilangan sebenarnya, sungguh DIA-lah sebaik-baik pengatur. Maha besar Allah, dan tiada dzat yang mampu menandinginya.

Berbalik kepada rezki yang telah Allah SWT “taburkan” di muka bumi ini, tapi kita terkadang terlepas pandang akan kenikmatan rezki tersebut. Atau kita mampu melihatnya, tapi kita tidak mampu merasainya (baca : memilikinya), kerana rezki yang Allah SWT timpakan tersebut hanya dimiliki oleh golongan-golongan tertentu yang jumlahnya sangat minoriti yang jumlahnya tidak sampai 1 persen dari penduduk Indonesia. Indonesia kaya raya dengan sumber minyak, emas, logam dan macam-macam lagi hasil buminya, tapi… kemanakah hasil kekayaan tersebut mengalir? Jawapan tersebut mungkin sudah ada dalam benak fikiran kita. Ya, benar… individu-individu yang tidak bertanggungjawab telah merampasnya, atau dengan lebih tepatnya mereka telah mencuri, merompak dan merampas hak kaum muslimin tersebut dengan sewenang-wenangnya. Namun, bukan itu yang ingin aku bahaskan dalam catatan ini. Cukup dengan hanya melontar persoalan, dan kalian fikirkanlah sendiri, atau kita diskusikannya di kemudian hari.

Dinamika Kota Bandung. Penduduknya sangat sederhana. Rata-rata penghasilan penduduknya pada setiap hariannya ibarat kais pagi makan pagi, dan kais petang makan petang. Pekerjaan mereka terkategori 2 macam, iaitu yang formal dan yang tidak formal. Formal di sini maksudku ialah bekerja di sektor-sektor khusus dalam pekerjaan. Seperti kerja kantor , salesman, driver, businesman dan seumpamanya. Manakala yang tidak formal ialah selain yang kusebutkan tadi. Ya tentu sekali banyak, dan tentu kalian penasaran apakah ia. Pernah merasakan satu ketika, tatkala kita sedang makan dan minum di warung/restoran ada penyanyi yang sedang mendendangkan lagu untuk kita tanpa disuruh, yang dengan itu kita berasa perlu untuk membayarnya (walau tidak mengapa jika tidak membayar walau sesen pun). Itu juga punca rezki. Dengarkanlah satu contoh lagi untuk sekadar gambaran yang lebih jauh tentang dinamika cara yang pelbagai penduduk di sana mencari rezki. Bayangkan, satu saat kita bersama keluarga ingin keluar jalan-jalan ke satu tempat. Kita bakal menempuh jalan yang panjang, dan liku-liku perjalanan kita pun akan melalui beberapa simpang yang tanpa adanya lampu isyarat dan kereta dari setiap lorong akan melaluinya. Praktikalkah bagi setiap penjuru lorong belok-membelok dalam stau masa yang sama? Tentu saja tidak, maka dari itu ada Polis yang tidak dilantik dari kerajaan yang melakukannya tanpa disuruh. Yang dengan itu kita berasa perlu untuk membayarnya. Itu juga punca rezki. Lalu, setelah kita sampai ke tempat tujuan. Di sana ada banyak kereta yang sedang parking dengan posisi yang membingungkan (baca: tidak tentu arah), lalu ada orang yang tanpa disuruh membantu kita agar kita parking dengan posisi yang betul dan tidak menabrak sebarang objek, yang denga itu kita berasa perlu untuk membayarnya. Itu juga punca rezkinya. “La Haula Wala Quwwata Illah Billah”, tiada daya dan upaya melainkan IzinNya. Maka dari itu, jangan khawatir tidak punya rezki, yang penting carilah rezki itu dengan jalan yang haq.

to be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: