Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Dualisme Malam

Posted by thinker on 31/08/2008

Jam sudah menunjukkan waktu jam 9.30, waktu yang memberi isyarat aku harus pulang dari kerja. Memberhentikan segala aktiviti banting tulang setelah sekian hari aku mengerjakannya. Suasana perjalanan pulang, memang sudah dijangkakan. Ini karena, tadi pagi jalan menuju ke Bukit Bintang memang telah ditutup untuk mempersiapkan pentas di bahagian hadapan kompleks Sungei Wang Plaza. Kenderaan menuju ke ibu kota sangat sesak kerana laluan yang terhad seperi yang berlaku tahun sebelumnya. Namun, perjalanan pulangku tidak terganggu, karena ia alur yang berbeza (siapa yang mahu merayakan merdeka di luar kota…). Malam, pantaskah dikau diperlakukan sebegini. Diasak oleh olah dan kegalauan manusia yang tidak tahu arah tuju sebagai hamba di muka bumi. Entah untuk apa, dan demi siapa yang kau juangkan(saya pinjam kalimat di dalam lirik samseng-ahli fikir). Wahai malam, jadilah temanku yang dapat mengantarkanku menjadi seorang hamba yang lebih mengenal Sang PenciptaNya. Malam apakah ia, sehingga ia memabukkan kita melebihi kepada anugerah malam yang lebih mulia daripada bulan-bulan lain-lainnya? Ia adalah bulan ramadhan, bulan yang dinanti kedatangannya, bulan yang diisi dengan penuh harapan oleh penganutNya (penganut di sini adalah penganut tauhid kpd Allah SWT). Dari Abu Hurairah:

كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُوْلُ: (( قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوِابُ الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ )) رواه أحمد والنسائي.

“Rasulullah saw. biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.”

Justru itu, perlukah kita disibukkan oleh malam yang tiada dapat memberi apa-apa manfaatnya kepada kita. Justru dengan kita disibukkannya, akan lebih memberi keburukan kepada pelakunya. Jika dikatakan bahwa masyarakat kini telah semakin pudar nilai-nilai ruh spiritualnya, ia agak keterlaluan. Ini kerana, masih banyak yang masih sedar akan hal ini. Justru itu, kepada mereka yang telah sadar akan keterpurukan umat dalam memandang setiap permasalahan yang berlaku di depan mata mereka, ungkapkanlah fakta dan berikanlah solusi. Para da’I, usatidz, ibu bapa, teman-teman dan khususnya para penguasa kaum muslimin sadarlah akan hal ini. Kembalilah dalam mengambil citra islam sebagai asas perjuangan. Dan buangkanlah segala hal yang menjauhkan kita dari Al-Khaliq.

Dualisme Malam, kupilih mensibukkan diri untuk ramadhan karim daripada hari merdeka yang bersifat ilusi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: