Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Novel itu bernama “Ayat-ayat Cinta”

Posted by thinker on 05/09/2008

Penulis : Habiburrahman El-Shirazy
Penerbit : Republika
Genre : Novel, Relegius Islami
Bahasa : Indonesia
Halaman : 420 m/s
Harga : Rp. 38, 000 – Rp. 45, 000 (Hard Cover)


Jika diingat tentang sejarah hidupku. Aku bukanlah seorang yang gemar membaca novel. Jangankan membacanya, melihat judul-judul bukunya aja tidak suka. Jujur saja, satu ketika dulu aku pernah menyepelekan orang-orang yang membaca novel termasuk temanku sendiri, hatta, seorang tetanggaku (seorang wanita) yang setiap harinya kerap kali membaca novel, aku sering (sebetulnya bukan sering, cuma pernah lho) menyindirnya ketika dia menghabiskan waktunya hanya sekedar membaca novel. Sungguh, kenangan itu membuatkan aku tertawa terhadap diri sendiri. Ini kerana, sekarang aku telah termakan sindiranku sendiri. Siapa tahu, sekarang aku adalah penggemar novel. Hendak tahu bagaimana, dan dari awal apa ia bermula? Ia, Ayat-ayat Cinta

Hari itu, ketika aku sedang melihat-lihat buku di Pustaka buku kegemaranku. Entah kenapa… sayup-sayup angin membisikkan ke dalam hati dan mataku agar menatap satu buku (novel) yang sering kedengaran di ruang-ruang diskusi maya lewat internet berkenaannya. Ah, mau lihat apa enggak ya. Hati berbisik. Kalau melihat, lalu tidak suka apa salahnya. Lalu letak semula di tempatnya. Kubuka sepintas lalu sela-sela muka surat buku tersebut. Lalu entah kenapa, aku berniat untuk membelinya. Mungkin dengan alasan, aku perlu membaca dan mengkaji isinya. Apa benar ia seperti yang diperkatakan orang? Atau ia hanya seindah judulnya? Ah, lupa berapa harganya untuk dikongsikan, maybe around RM45 dengan berkulit keras dan berbahasa Indonesia.

Malam itu juga, aku mulai membacanya. Kedengaran agak aneh juga ya, seorang yang sering menyepelekan novel, lalu membeli dan membacanya dengan andil yang biasa-biasa. Hehe, tapi itulah aku. Seorang yang selalu ingin mencari kelainan. Mulai dari chapter awal, “Gadis Mesir itu bernama Maria”, sudah cukup membuatku sedikit penasaran berkenaan siapa sih sebenarnya Maria itu. Gadis yang begitu cerdas dalam berkata-kata. Malah mengaku bahawa al-quran adalah kitab suci yang paling banyak dibaca orang. Persoalan itu, hampir hinggap di dalam benakku seketika. Ah teruskan membaca. Ternyata, novel itu punya satu transisi yang berbeda dengan buku-buku yang pernah aku baca. Chapter “Peristiwa di dalam Metro” itu sudah cukup membuatku mengerti citra yang ingin dibawa oleh Kang Abik – Sang Penulis Novel itu. Chapter tersebut sempat membuatku sedikit berfikir berkenaan diskusi Fahri berkenaan orang local di dalam metro itu berkenaan kafir dzimmi yang diperlakukan dengan hak yang sama di dalam Daulah (Islam). Aku mula mengoreksi dan menguras semula pengetahuan yang ada di dalam akalku. Ternyata, ia berbeda, karena orang yang disebutkan kafir dzimmi oleh Kang Abik bagi saya bukanlah berstatus kafir dzimmi melainkan kafir musta’min, iaitu orang kafir yang mendapat visa sebagai pelajar atau pelancong ke dalam dualah. Ya, Cuma itu saja. Walau ia berbeda dengan pemahamanku, namun alur cerita tersebut membuatkan keinginanku untuk meneruskan membacanya.

Maaf, karena aku gak bermaksud untuk menceritakan semua inti dari novel tersebut. Karena saya yakin, pembaca sekalian sudah banyak yang usai membacanya. Konflik demi konflik yang disodorkan oleh Kang Abik ternyata hidup dan mengghairahkan. Melihat karektor Fahri, seakan-akan sedang mengukur baju sendiri. Sedang melihat perbandingan watak antara aku dan dia. Walau ia sekedar watak yang direka, namun ia tidak mustahil wujud dalam dimensi kehidupan ini. Mungkin watak tersebut terlalu sempurna bagi saya jika dibandingkan dengan orang-orang lain di arena kehidupan. Mulai dari sahsiyahnya, karektornya dan penampilannya sebagai seorang muslim yang berada di tatanan kehidupan yang penuh pancaroba, ternyata watak Fahri berdiri teguh dengan prinsip dan keyakinan yang difahaminya. Apakah aku belum pernah menemukan manusia muslim seperti itu? Mmm… mungkin pernah. Tapi ya… begitulah manusia. Perlu senantiasa ditegur sapa oleh kebenaran. Harus senantiasa berpesan-pesan dalam kebaikan. Mungkin sekali kita benar, siapa sangka kita akan terjebak untuk melakukan kesalahan di lain waktu tanpa ada yang menegur dan membetulkannya. Berteman dengan orang-orang soleh adalah kuncinya. Berada di tengah-tengah jamaah orang-orang yang bertaqwa adalah kuncinya. Ketika kita melakukan kesalahan, maka akan ada orang yang membetulkan. Ketika kita bengkok, ada yang meluruskan. Begitulah hukumnya.

Begitulah cerita singkatku berkenaan awal dari kesukaanku membaca novel. Tidak misterius dong, tapi cukup memberi inspirasi, bahwasanya kita jangan cepat menduga-duga hal yang belum pernah kita coba. Makanya, nanti jika setelah dicoba barulah kita punya hak untuk mengomentarinya. Dan buktinya, novel Ayat-ayat cinta telah berhasil mengetuk pintu jiwaku untuk mencari-cari novel yang seakannya, agar bisa diserap ke dalam kehidupan. Ini kerana, apa yang a da di dalamnya juga sarat dengan pengajaran dan inti dari ajaran islam. Aku bukan berharap untuk menjadi orang seperti Fahri, kaena patokan dan suri tauladan yang sebenar bagi kita sebagai seorang muslim adalah baginda nabi saw. Maka dari itu, aku adalah hamba yang ingin selalu memperbaiki diri dan bertaubat ketika melakukan kesalahan (kesalahan dikarenakan kejahilan) agar selalu dekat kepada Robbul Alamin – Tuhan Semesta Alam.

* Bagi sesiapa yang ingin memiliki/membaca novel ini. Saya sarankan agar membaca yang berbahasa Indonesia. Ini karena, penulisnya berbangsa Indonesia. Jadi, jiwa dan citra penulisannya adalah Indonesia. Silakan tanya kepada yang udah membacanya dalam edisi Malaysia, tentu beda kan? Makanya, bacanya yang asli bahasa Indonesia. Bukan bermaksud ashobiyah, karena saya lahir di Malaysia, cuma sekedar saran yang berbentuk kebaikan.Novel itu, bernama “Ayat-ayat Cinta”. (Aku usai membacanya sekitar bulan November 2006)

4 Responses to “Novel itu bernama “Ayat-ayat Cinta””

  1. insyirah said

    berhari2 melawat blog yg sama membuatkan ana terfikir penulisnya memang truely indonesian…

    AYAT2 CINTA..released in 2004..pndapat ana,still the best novel yg ditulis oleh Habiburrahman..
    compared dgn 2 cerpen dlm Pudarnya Pesona Cleopatra or dwilogi Ketika Cinta Bertasbih yg sempat ana bc..(sempat juga sebenarnya ‘menelaah’ tulisan enta dalam posting berkaitan KCB)

    Pertama kali mendengar tajuk buku ini dulu, terasa jauh benar dari senarai novel2 kegemaran ana (Tulisan2 Faisal Tehrani, Ramlee Awg Murshid etc..thriller)..kali ni berdepan dgn novel yg berkisar tntg CINTA..aduh…tajuknya saja sudah membuatkan ana geleng kepala..tapi, membaca artikel2 blogger lewat alam maya membuatkan ana rasa tertarik utk ‘melepak’ di MPH, Mid Valley semasa cuti mid-sem..ingatkan dapatlah jimat budget sikit (x perlu beli, tumpang baca je)…

    Parahnya, x sampai 3 chapters, terasa ada yg bergenang di pelupuk mata…(cheh…)…akhirnya, terpaksalah melangkah ke kaunter cashier sebelum apa2 yg x diingini berlaku..Novel A2C dlm versi Malaysia jauh lebih murah sebenarnya (RM 20++)..sempat juga survey harga buku KCB di PI a.k.a FIB, tp memang harganya dua kali ganda!..di Indonesia, Dwilogi KCB pun lebih kurang je harga jualan di Malaysia (sempat pesan dgn sahabat yg menuntut di sana utk carikan KCB versi Indonesia)..membaca dgn bahasa sang penulis, kesannya memang berbeza..

    beberapa bulan lepas, dpt peluang tengok novel ni dlm bentuk filem indonesia..tgh box office skrg..frankly, MENGECEWAKAN..sayang betul bila novel sehebat tu muncul dlm layar filem tp “kehilangan” the main messages yg cuba disampaikan oleh penulisnya..

    Mungkin A2C ni lebih bermanfaat dan terkesan kalau dinilai dari bukunya, bukan filem tu..if ana x baca novel tu dulu, mgkin x dapat mghayati watak manusia2 hebat spt fahri, aisya, maria etc…ada banyak benda sebenarnya yg cuba disampaikan oleh penulis melalui watak2 tu, bukan semata-mata berkisar tentang cinta sj..

    Lastly, I’m still waiting for the next film of KCB…

  2. thinker said

    syukron ukhti krn sudi mampir, eh singgah. Maaf, krn masih ada penulisan yg berbasis indonesia, ini kerana penulisan awal tersebut sy masih terkesan dgn buku-buku rujukan sy di maktabah peribadi sy.

    Tapi, insyaAllah… penulisan seterusnya sy akan usahakan utk menulis dlm bahasa melayu, walau tidak terkesan sastera yg tinggi. Namun, sy masih berusaha utk mengungkapnya dlm bentuk yg unik.

    Ala kulli hal, jazakallahu khoir ukhti di atas komennya

  3. insyirah said

    Assalamualaikum

    Tengah mendengar lagu sambil surf internet.."Bukan kerna
    nama" …Nyanyian Ramli Sarip..
    ( korus )
    Dengarlah hai teman
    Dengarkan bersama
    Aku menulis bukan kerna nama
    Kerna sifat kasih
    Pada sesama insan
    Dan menyatakan kasih sayangku
    Kita sama semuanya sama

    Ana sudah biasa mendengar lagu ini. Memang tertarik dengan liriknya. Sangat memberi kesan,terutamanya para penulis meng'evaluasi' kembali untuk apa kiranya kita menyemarakkan medan penulisan ini. Tidak kira samaada menulis buku, majalah, forum,groups,email, blog,
    artikel hatta sms sekalipun, niat merupakan faktor terpenting untuk menjustifikasikan nilai amal perbuatan kita.setuju?

    Walaupun mungkin kelihatan di mata sesetengah jiwa,media penulisan itu
    kelihatannya tidak memberi apa-apa sumbangan berbanding dengan fasihnya lidah dalam mengatur hujjah..tetapi, bagi ana inilah
    permulaan ana mengenal ISLAM dan DAKWAH..(Alhamdulillah)..

    mudah2an kita, (peringatan buat ana sendiri) sedar, dengan menulis dan menyumbangkan sesuatu untuk membentuk fikrah ummat maka itulah yang akan mencetak peribadi-peribadi yang akan membentuk revolusi dalam diri, figur-figur dan ummat keseluruhannya. Ia telah dibuktikan di mana-mana gerakan sekalipun.

    Akhir sekali..Semoga terus beristiqamah & beristimrar
    di jalan ini tidak kira apa pun 'label', bahasa & wasilah yang enta gunakan..

    "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (41:33)

    “Kami menulis ini bukan kerana tidak ada pekerjaan, dan bukan pula
    kerana ada yang mahu membacanya. Kami menulis kerana kami merasa ada
    nasihat yang harus kami sampaikan kepada saudara2 pengembang dakwah,
    sebagai satu bentuk partisipasi kami dalam ‘perjalanan’ yang diberkati ini. Perjalanan menegakkan dien dan meninggikan panji-panjinya.” [Dr.Abdullah Azzam, “Nasehat-nasehat Rasulullah SAW Penawar Lelah Pengemban Dakwah”, Uswah (2006) ]

    NOTA KECIL DI HUJUNG ISYA'

    Dalam sebaris jemari yang kususun di hujung isya'
    ada wudhu’ yang menakung khusyuk
    saat kubaca seraut peribadi
    dengan serangkap bahasa walang
    dan cinta samawi yang sekian lama tergalang

    Aku adalah kerdil munajat yang tempang
    punya dada berdarah
    dan hati yang tertarah.
    Pimpinlah aku berjalan di langit syahadah
    mencari rumah-Mu yang menghimpun barakah
    tempat berteduh seisi jagat
    paling indah
    paling merahsiakan kejadian.

    Saat kutuliskan serangkap hasrat
    di sekeping nota munajat yang terkoyak,
    antara hayat dan barzakh
    adalah musafir rahsia paling singkat
    menuju jalan tak beralamat
    di kerajaan akhirat yang terlalu, terlalu mendekat.

    Rabb,
    izinkan aku bermendung dari panas duniawi
    di bawah teduh langit rahim-Mu…

    12.43 AM
    Sepuluh malam terakhir Ramadhan,
    1429 H..

  4. thinker said

    barokallahu fiq ukhti. mg segala amal dan niat kita dicatat oleh Allah SWT sbg amal soleh. dan smg apa yg kita lakukan ini bukanlah diniatkan utk berbangga-bangga dan riak, melainkan hanya kerna Allah SWT semata…

    Wassalam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: