Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Memilih Calon Isteri

Posted by thinker on 15/09/2008

Adakah anda punya cita rasa tinggi memilih seorang wanita untuk dijadikan istri? Lalu dengan kriteria-kriteria tersebut, membuat anda terlalu lama membuat seleksi, yang akhirnya membuat kita sendiri tidak puas dalam pencarian. Padahal, mungkin saja wanita yang baik itu ada di sekitar kita, tetapi kita tidak menyadarinya lantaran kekaburan kita dalam membuat pilihan. Renungkanlah satu kisah untuk dijadikan iktibar oleh kita semua.

Suatu malam, khalifah Umar bin Khattab ra. keliling keluar masuk lorong kampung melihat keadaan rakyatnya. Suatu pekerjaan yang rutin dilakukan oleh beliau dalam kapasitas sebagai Amirul Mukminin (Ketua Negara). Tiba-tiba beliau mendengar sebuah dialog menarik dari rumah seorang wanita penjual susu:

“Ayo, bangunlah! Campurkan susu itu dengan air!”

“Apakah ibu belum mendengar larangan dari Amirul Mukminin”

“Apa larangannya, Nak?”

“Beliau melarang umat Islam menjual susu yang dicampur air”

“Ah, ayo bangun. Cepatlah kau campur susu ini dengan air. Janganlah engkau takut pada Umar, mana ada dia di sini!”

“Memang Umar tidak melihat kita, Bu. Tapi Tuhannya Umar melihat kita. Maafkan ibu, saya tidak dapat memenuhi permintaanmu. Saya tidak ingin jadi orang munafik, mematuhi perintahnya di depan umum, tapi melanggar di belakangnya”.

Dialog ibu dan anak ini sungguh sangat menyentuh Umar. Khalifah yang terkenal keras itu pun luluh dan terharu hatinya. Beliau sangat kagum dengan ketaqwaan gadis miskin anak penjual susu itu.

Paginya beliau memerintahkan salah seorang putranya (Ashim) untuk meminang gadis miskin tersebut, “Pergilah kau ke sebuah tempat, terletak di daerah itu. Di sana ada seorang gadis penjual susu, kalau ia masih sendiri (belum dipinang), pinanglah dia. Mudah-mudahan Allah akan mengaruniakanmu dengan seorang anak yang shalih yang penuh berkah”.

Firasat Umar benar. Ashim menikahi gadis mulia itu, dan dikurniakan putri bernama Ummu Ashim. Wanita ini lalu dinikahi Abdul Aziz bin Marwan, dan mereka mendapatkan seorang anak lelaki yang kemudian menjadi seorang khalifah yang terkenal adil dan bijaksana, iaitu: Khalifah Umar bin Abdul Aziz, RadhiyAllahu Anhu.

Dalam memilih jodoh, tak jarang masyarakat kita masih mementingkan aspek-aspek lain sebagai kriteria: kecantikan, kekayaan, atau keturunan. Padahal seringkali semua itu justru bisa menjerumuskan kita ke lembah kenistaan.

Nabi sudah memberikan sebuah peringatan: “Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin kecantikannya itu bisa mencelakakan. Dan jangan kamu mengahwini wanita karena hartanya, mungkin hartanya itu bisa menyombongkannya. Akan tetapi, kawinilah mereka karena agamanya, sesungguhnya seorang hamba sahaya yang hitam warna kulitnya tetapi beragama, itu jauh lebih utama”. (HR Ibnu Majah, Al-Bazar, dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Umar).

Semoga menjadi iktibar kepada para ikhwan ketika memilih calon istri. Untuk para akhwat, jika datang kepadamu seorang lelaki yang soleh untuk mengkhitbah kalian, janganlah kalian menilainya selain ketaqwaannya, kerana ia adalah pakaian yang akan menyelamatkan kalian kelak ketika berumah tangga. Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: