Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Bagaimana Awal Seorang Penulis?

Posted by thinker on 16/09/2008

Mungkin jika dinilai antara 10 orang, hanya satu orang sahaja yang mempunyai kebiasaan membaca buku. Kalaupun yang 9 itu ada membaca buku, ia mungkin buku-buku komik-ala kartun. Membaca buku-buku yang bersifat ilmiyah, fikriyah, ideology, ushul fiqh dan berita-berita terbaru di koran ternyata jauh sekali. Ini dikarenakan semua bahan-bahan bacaan yang saya sebutkan tadi adalah bahan yang diklaim berat oleh golongan tersebut. Menyentuh hal-hal keilmuan yang bersifat spesifik seperti biologi, kimia, perakaunan, fizik tentu sahaja akan dikaji oleh mereka-mereka yang sedang mengkajinya semasa di bangku kuliah. Setelah itu? Ya, mungkin saja masih mentelaahnya, tapi ya sebatas keperluan sahaja. Membaca Koran gimana?

Kabar-kabar baru yang disajikan oleh para wartawan tentu sahaja bukanlah kabar kosong tanpa perlu diamati begitu sahaja. Isu-isu yang ada di koran juga bukanlah yang hanya dibaca oleh para direktur, manager, penganalisis atau politikus semata. Buktinya, ia adalah bahan-bahan yang mudah didapati dan diakses dengan mudah. Tidak mampu membaca, alternatifnya menonton. Jika tidak mampu membeli, maka alternatifnya meminjam. Jika tidak suka menonton, alternatifnya adalah mendengar. Terlalu banyak alternatif-alternatif yang ada, apa yang perlu adalah kesediaan kita untuk menyikapinya serta menjadi seorang yang menginginkan perubahan dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar-Ra’d[13]: 11)

Syeikh Taqiyuddin ketika mendefinisikan kebangkitan adalah dengan bermula dengan kesedaran dan peningkatan taraf berfikir sesuatu kaum itu sendiri. Beliau menegaskan, kebangkitan bukanlah bermula dengan memfokuskan kepada masalah teknologi semata, buktinya Negara Jepun masih belum bisa menandingi kuasa adidaya seperti Amerika walaupun Jepun adalah negara yang mencipta teknologi. Kebangkitan juga bukan bermula dari tingginya sifat-sifat moral dan akhlak dalam diri manusia, sehingga model negara tersebut adalah seperti di Madinah (saat kini). Buktinya, Madinah dan Negara-negara arab bukanlah sebuah kekuatan yang perlu dikhawatirkan oleh sesiapa (malah, negara-negara arab adalah pak turut dalam banyak hal terhadap Amerika).

Dengan membeli, sudah memulainya

Oleh sebab apa yang saya tulis ini adalah berkenaan pengalaman penulis sendiri ketika satu ketika dulu berada dalam fasa awal untuk mencintai buku, jadi ada kemungkinan pengalaman penulis tidak sama seperti yang pernah dialami oleh penggemar buku di luar sana. Tetapi mungkin masih ada kemiripan, saya yakin itu.

Pada satu ketika dulu, saya adalah tergolong orang yang tidak suka membaca, apatah lagi menulis (jauh sekali). Namun semuanya berubah pada saat saya berkenalan dengan teman yang pada saat itu dia adalah penjual buku. Maka, pada saat itu bermulalah tahapan awal dalam sejarah hidup saya, bahawa saya mulai membeli buku-buku dari teman saya tersebut. Tidak kalah banyaknya, hampir tiap ada buku-buku yang baru, maka saya adalah antara pembeli setia kepada teman saya tersebut. Jujur saja, pada saat itu, saya membelinya bukanlah diniatkan dengan sungguh-sungguh untuk dibaca, melainkan hanya sekadar hobi, rutin atau yang sejenisnya, melihat dari apa yang saya alami sendiri. Buku-buku tersebut, saya susun rapi di persada rak buku. Tidak cukup satu rak, saya beli satu lagi rak. Berjejeran buku-buku tersebut semakin hari, semakin banyak dan membuat kamar saya penuh dengan pemandangan bunga-bunga buku. Tapi sayang, pemandangan tidaklah bermakna ketika tiada pemanfaatannya. Pemanfaatannya tentu saja memerlukan pemiliknya untuk membaca, menulis, memahami serta menyampaikannya kepada manusia lainnya.

Satu Perenggan dengan Istiqamah

Masa beredar dengan cepatnya, tanpa melihat siapa yang ditinggalkannya. Begitulah peredaran masa yang berlaku. Dalam masa hampir 1 tahun, saya telah mengoleksi hampir 50 buah buku yang pada posisi diri saya, ia agak berat dan memerlukan mental yang kuat untuk memahami setiap isi kandungan buku-buku tersebut. Namun, otak yang Allah SWT kurniakan, tidak saya sia-siakan. Hampir tiap hari, saya berfikir akan ke manakah arah tujuan buku-buku tersebut? Adakah akan seperti itu sahaja, tanpa dimanfaatkan? Pertanyaan itu berlegar-legar dalam hati, jiwa dan perasaanku. pernah nonton spiderman gak? Ingat tentang watak Harry Osborn ketika diselinapi oleh anasir jahat (makhluk aneh) yang senantiasa membisikkan perasaan benci dan dendam terhadap Peter Parker yang kononnya telah membunuh ayahnya (begitulah sinopsisnya). Namun, apa yang berlaku terhadap siri saya ini agak berbeza. Ini kerana, perasaan yang sering membisikkan itu adalah bisikan-bisikan yang penuh dengan kecermatan dan membuat diri saya berfikir.

Akhirnya, teka-teki bermula. Saya mula mengambil langkah untuk membaca semua buku-buku kepunyaan saya tersebut. Walau tidak boleh menghabiskannya dalam satu malam, satu minggu atau satu bulan, minimal saya boleh menghabiskannya dalam masa satu tahun. Satu tahun 1 buku, 2 tahun 2 buku, 3 tahun 3 buku… wah, capek jika ingin menunggu 50 tahun hingga habis semua buku tersebut. Akhirnya babak seterusnya bermula. Mulai dari 1 perenggan dalam 1 malam, saya boleh menghabiskan lebih dari itu dari 1 malam ke malam seterusnya. Satu jadi dua, dari rendah jadi tinggi, stagnan berevolusi dinamik, yang mandul menjadi bercambah. Begitulah fasa yang berlaku pada ketika itu. Ia hanya dengan satu kalimat, iaitu “Istiqamah”. Sehingga menyebabkan saya mulai rajin membaca buku-buku di kamarku. Bukan setakat itu, semua “perencah” bacaan juga saya baca, seperti surat khabar, majalah, nasarah dan sebagainya.


Asyik Membaca, Jom Diskusi

Ternyata, saya tidak puas hanya dengan hanya membaca dan terus membaca. Saya perlukan satu perkara yang baru. Saya perlu kelainan, iaitu dengan mendiskusikan apa yang telah saya baca. Apa yang saya lakukan adalah dengan berjumpa dengan teman-teman terdekat dan menceritakan semua apa yang telah saya baca dan fahami dengan penuh ghairah dan antusias. Ternyata, apa yang saya lakukan cukup mendapat perhatian dan mendapat sokongan dari teman-teman. Buktinya, teman-teman saya sendiri mula berasa “cemburu”, dan mula melakukan hal yang sama iaitu dengan rajin membaca dan mendiskusikannya bersama. Ah, cemburu yang begitu, memang perlu. Saya harap para pembaca juga boleh bersikap cemburu. Saya tidak puas, saya melakukan hal yang sama, tapi bukan berjumpa dan berdiskusi dengan teman akrab, tetapi saya berjumpa dengan para asatidz (jama’ ustadz). Ternyata saya mendapat satu pencerahan, idea dan wawasan yang lebih mendalam dengan pertemuan itu. Ala Kulli hal, jazakallahu khoir. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kebaikan kalian pada saya dengan lebih di dunia dan akhirat.


Saatnya Menulis!

Satu ketika, saat saya belanja buku di Pustaka (teka sendiri Pustaka apa ya :-D), saya terjumpa satu buku yang berjudul “Membangkitkan Roh Menulis Artikel” karya Nurudin sekali gus penulis kepada buku yang berjudul mirip iaitu “Menulis Artikel Itu Gampang”. Memang sudah menjadi tabiat saya, bahawa setiap benda yang aneh (baca: yang lain dari yang lain) pasti akan saya cuba. Aneh di sini tidak mencakup perkara yang negatif, tapi perkara yang positif plus informasi yang bersifat natural. Saya membelinya, lalu membacanya. Penulis buku tersebut membuka wawasan yang lebih terhadap diri saya. Judul chapter awal; “Membangun Roh Menulis” sudah cukup membuat hatiku bergetar dan penasaran. Setelah “roh menulis” itu timbul dan wujud, lalu ia harus dikelola dan dibangun dengan citra yang betul. Tertuanglah dalam chapter ke-2, yang berjudul “mengelola roh menulis”. Jiwa, citra dan wawasan sudah tumbuh, lalu dibawa dan dikontrol oleh roh menulis, apakah sudah cukup? Chapter ke-3 difinaliskan oleh Saudara Nurudin judul “memperkuat roh menulis”. Maksudnya ialah agar wawasan dan cita-cita yang tumbuh itu tadi, tidak hanya sekadar merawang di angkasa,tapi harus dipandu dan diperkuat dengan falsafah-falsafah penulisan. Kalau mahu tahu isinya dengan lebih mendalam, silakan beli sendiri ok! Sebenarnya, bukan buku ini sahaja yang membuat saya lebih kukuh dalam dunia penulisan yang serba sederhana ini, tetapi ada banyak lagi, tetapi cukup dengan buku yang satu ini untuk dikongsikan di sini, semoga kita mendapat manfaat darinya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, ingatlah bahawasanya Rasulullah pernah bersabda dan berpesan kepada kita bahawa kita harus bijak dan pandai dalm bergaul dan memilih teman, agar kita mendapat haruman sang peniaga minyak wangi, dan terhindar dari asap dan kepulan sang tukang besi, kerana asap tersebut bukan setakat mendatangkan bau yang tidak dingini, tetapi juga kemungkinan mengandungi dzat karbon monoksida yang boleh menyenyakkan kita dari mengenal jatidir kita sebagai seorang muslim. Bergaullah dengan orang yang suka membaca, lalu kalian akan terikut membaca. Biasakanlah berinteraksi dengan orang yang suka berdiskusi, maka sekali gus anda adalah partisipan dalam diskusi tersebut. Balas membalaslah dalam ruang penulisan apa pun, tanpa anda sedari… Eh, saya seorang penulis lah! Betul ke ni???

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: