Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Dziki-dzikir Cinta – Menyelami Kehidupan Seorang Santri

Posted by thinker on 26/09/2008

Anam Khoirul Anam itulah nama sang penulis. Melihat fizik novelnya, saya tidak terasa tertarik (jujur dariku). Tapi apa yang terzahir bukanlah menafsirkan isinya. Kadang luarnya cantik, tapi isinya memualkan. Ibarat kata: “Don’t judge the cover”, maksudnya jangan suka-sukanya kita menilai sesuatu itu dengan hanya melihat luarannya, dan mengabaikan dalamannya. Itulah muqaddimah awal dari saya dalam resensi kali ini. Bukan apa, khawatir ada yang ingin membeli, lalu bertukar fikiran lantaran kerana fizik luarannya tidak cantik gitu lho. Ayuh teruskan baca ya.Membaca novel ini, membuat saya mengimbau kenangan lalu sewaktu saya sedang belajar di Pondok Pesantren. Menjadi santri, memang suatu kenangan yang luar biasa. Oh, saya tidak boleh menceritakan semuanya di sini, di atas keterbatasan medium ini. Rusli adalah tokoh utama dalam novel ini. Ia seorang santri sekaligus ustaz di pesantren yang terdiri dari dua pengasuh, di antaranya Gus Mu’ali pengelola santri puteri dan Gus Mahfudz pengelola santri putera.

Di sisi lain penulis juga menceritakan perempuan Kristiani, Sukma. Ia memiliki ketertarikan pada ajaran Islam. Ketertarikan itu bermula saat dalam setiap mimpinya didatangi seorang laki-laki berjubah putih mengajaknya melakukan solat. Singkatnya Sukma pun masuk islam lewat perantara sahabat karibnya sendiri, Nikmah. Oleh kerana pengetahuan Sukma tentang Islam belum sempurna disertai dengan semangat untuk mendalami agama islam itu sendiri, maka ia pun mengikuti jejak Nikmah yang kebetulan menjadi santri senior di pondok Gus Mu’ali, satu pondok dengan Rusli.

Dalam kesempatan lain, Rusli diberi tugas oleh kiayinya Gus Mahfudz untuk mengajarkan qori’ (seni membaca al-Qur’an) kepada santri putri, salah satu di antaranya adalah Sukma. Dari situlah pertemuan pertama antara Rusli dengan Sukma terjadi.

Sebagai manusia biasa, keduanya (Rusli dan Sukma) mulai ada kesamaan rasa, hingga kemudian keduanya menjalin hubungan dengan sembunyi-sembunyi. Lewat Nikmah, keduanya saling mengirim surat , namun tak pernah melakukan pertemuan. terkecuali saat orang tua perempuan Sukma meninggal dan ketika Gus Mahfud mempertemukan keduanya (pada cerita terakhir).

Pada saat hubungan keduanya mencapai puncak kenikmatan batin, ada pihak ketiga yang ternyata sangat mencintai Rusli. Dia adalah Fatimah, anaknya Gus Mahfudz sendiri. Awal mula terungkapnya cinta Fatimah, bermula dari pinangan Kiai Latif yang ditolak keras oleh Fatimah. Kemudian dengan jujur Fatimah mengatakan pada ayahnya bahawa, cintanya hanya untuk Rusli semata.

Titik kemuncaknya, sang guru lalu memanggil Rusli dan bertanya sama ada dia sudah punya pacar atau tidak (dengan hasrat untuk menikahkan anaknya jika Rusli belum berpunya). Namun, Rusli bingung untuk berkata jujur dan maksud dari pertanyaan tersebut, kerana di pesantren sememangnya tidak dibenarkan berpacaran, dan akibatnya jika ketahuan adalah santri tersebut akan dikenakan ta’zir (denda). Akibatnya, Rusli ditawarkan untuk dinikahkan dengan anaknya Fatimah yang secara sembunyi telah menaruh cinta terhadap Rusli. Rusli menerimanya kerana khawatir mengecewakan sang guru dan takut kualat (bencana bagi orang yang tidak mengikut kehendak para alim ulama’, pent), walau sanubarinya sukar untuk menerima tawaran tersebut. Bagai tertusuk sembilu, Sukma harus menerima kenyataan putusnya hubungan dengan Rusli. Dan sebaliknya Rusli juga bahawa dia telah rasmi menjadi suami kepada orang yang tidak ia cintai, namun ia hormati dan ia junjung tinggi. Tetapi cinta Rusli terhadap Sukma tidak pernah sirna, hanya saja ia berhenti saling mengirim surat . Sedang Sukma menenggelamkan diri dalam kesufiannya.

Ternyata takdir berbicara lain, setelah memiliki satu anak, Fatimah memenuhi panggilan Yang Maha Kuasa. Namun dengan kearifan sikap Gus Mahfudz, Sukma diminta kerelaannya untuk menjadi ganti Fatimah setelah hubungannya dengan Rusli (sebelum hadirnya Fatimah sebagai istri Rusli) terbongkar. Namun, sekali lagi Rusli harus menerima kenyataan pahit kerana Sukma juga ikut menyusul kepergian Fatimah.

Saya melihat, novel tersebut ada ciri-cirinya sendiri, iaitu menampilkan kultur sosio budaya jawa yang sebenarnya. Walau tidak sehebat novel Ayat-ayat Cinta, namun Dikir-dziki Cinta masih punya citra tersebdiri. Tidak basa basi, tapi terampil adanya. Suasana pergaulan dan peristiwa-peristiwa yang sememangnya terjadi hampir di semua Pondok Pesantren digambarkan oleh Sang Penulis dengan baik, walau menggunakan gaya bahasa yang sederhana. Tidak terlepas dari kelemahan dan kekurangan, novel ini masih kurang dari sudut pengolahan gaya bahasan dan penulisan. Ini kerana, saya belum boleh mengikuti rentak emosi hatta menangis dalam setiap tragedi yang menimpa. Gaya bahasa yang mendatar dan penunjukan peristiwa yang straight forward tanpa ada bingkai antonasi yang menghiasinya. Di sisi lain, seharusnya penulis memberikan catatan kaki bagi bahasa jawa yang sering digunakan, untuk memudahkan pembaca selain jawa (seperti saya, hehe) memahaminya. Namun, ia tidaklah mengurangi rasa kagum saya terhadap penulis, kerana saya dapat tahu bahawasanya Dikir-dikir Cinta adalah karya pertama Anam Khoirul Anam. Kalaulah saya dibandingkan dengan beliau, mungkin terlalu jauh berbeza, hehe. Pembaca budiman, selamat membaca dan meneroka dunia santri dengan Dikir-dikir Cinta.

Wallahu’alam…

2 Responses to “Dziki-dzikir Cinta – Menyelami Kehidupan Seorang Santri”

  1. HADFURRAYYAN said

    Anam Khoirul Anam ni student Universiti Malaya jugak ker,,macam kenal ajer namanya

  2. thinker said

    bukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: