Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Hati-hati, Nanti Kebakaran!

Posted by thinker on 04/12/2008

Kebakaran, kebakaran…. kebakaran! Teriak seseorang dari luar rumah. Ketika saya keluar rumah untuk melihat kejadian apa sebenarnya yang berlaku, sebuah rumah sudah hangus terbakar. Setelah mangsa ditanya, dia menjelaskan bahawa ketika itu dia sedang memasak di dapur, lalu ditinggalkan masakan tersebut kerana sedang asyik menonton perlawanan sepak bola di depan. Lalu, entah bagaimana, satu letupan berlaku dan menyebabkan api mula marak dan membakar sedikit demi sedikit fizik rumahnya.

Teman, dari kisah ringkas di atas saya ingin mengajak kita semua untuk merenung sejenak. Sebentar aja sih. Saya ingin mengungkapkan tentang realiti yang ada di dalam masyarakat kita. Bayangkan ketika kita mempunyai anak. Mulai dari kecil, kita sayang dan belai ia dengan penuh kasih sayang. Dengan ia, kita bersemangat dan bangga. Lalu, setelah usia dimamah waktu, anak itu semakin membesar dan kita mulai lalai dan leka dalam mendidiknya kerana asyik sibuk dengan kerja atau tidak peduli dengan pergaulan dan pendidikannya. Kalaupun membiayai pendidikannya, tapi hanya sebatas memenuhi keperluan persekolahan tanpa kita memperhatikan prestasi dan kultur sosialnya. Misalnya, anak kita itu sekarang sudah pandai membaca atau belum? Anak kita di sekolah nakal atau gimana? Anak kita setelah pulang dari sekolah langsung pulang atau sangkut di mana-mana? Kalau dia bermain, maka temannya itu siapa? Pengaruh yang baik, atau yang buruk diterimanya. Sejumlah pertanyaan yang lahir dari sifat tanggungjawab bagi orang tua perlu ada ketika sedang membesarkan anak-anak.

Guys, bayangkan apa yang terjadi jika semua pertanyaan itu tadi tidak ditimbulkan dan disikapi dengan serius oleh orang tua? BOM! Api meledak dan bakal membakar seisi rumah. Rumah yang menjadi tempat kita berteduh dan tinggal untuk meneruskan kehidupan, lalu hangus dijilat api. Sama dong! Anak yang kita harapkan agar bila besar dan dewasa kelak akan menjadi manusia yang berguna sekali gus membuat kita bangga di kalangan keluarga, masyarakat dan juga negara. Apa yang lebih penting, kita akan lebih bangga nanti ketika berhadapan dengan Allah SWT kerana dapat menjaga amanah yang diberikan di dunia ini, iaitu mewarnai kehidupan anak-anak kita dengan nuansa iman dan takwa. Oleh itu, seperti kejadian yang saya ceritakan tadi, untuk memasak saja perlu tanggungjawab dan hati-hati, agar masakan kita tidak hangus, lantas api yang digunakan untuk memasak tadi tidak membahayakan kita. Apalagi untuk mendidik dan membesarkan anak. Tentu saja perlu banyak pengorbanan waktu, tenaga dan kasih sayang yang perlu dicurahkan. Seorang anak ketika baru lahir itu bagaikan kain putih, maka kitalah yang akan memberi warna-warna kehidupan bagi seorang anak tersebut. Jangan sampai ia diwarnai oleh kejahatan dan kerosakan. Tapi biarlah ia dipenuhi dengan warna-warna kebaikan dan kesolehan sebagai seorang yang beriman di muka bumi ini.

Namun, semua itu perlu dimulai dari individu, keluarga dan masyarakat, lalu tanggungjawab negara ketika menerapkan hukum dalam pemerintahan. Individu haruslah mempunyai kesedaran untuk menjadi hamba Allah yang beriman dan bertakwa di muka bumi, keluarga dan masyarakat haruslah senantiasa menjalankan amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah kehidupan, manakala sebuah negara yang menginginkan kemuliaan hakiki tentunya akan memilih syariat islam sebagai pemacu dalam sistem kehidupan. Manusia bukanlah malaikat yang selalu taat, dan bukanlah binatang yang tidak mempunyai akal. Justeru itu, sebuah sistem yang benar yang berasaskan wahyu diperlukan untuk mengurus masalah kehidupan mereka. Kesedaran dan keinginan perlu dituntun dengan ilmu yang benar di dalam sebuah negara. Jadi, tidaklah berguna jika manusia itu hanya berbekalkan kesungguhan dan kesedaran tanpa adanya ilmu yang benar tentang segala-galanya. Oleh itu, dengan tulisan yang singkat ini, kita semua berharap agar hari ini lebih baik dari semalam, dan begitulah seterusnya. Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang amalannya hari ini lebih baik dari semalam, dia adalah orang yang beruntung. Barang siapa yang amalannya hari ini sama dengan yang semalam, dia adalah orang yang rugi. Dan barang siapa yang amalannya hari ini lebih buruk dari hari semalam, dia tergolong orang yang dilaknat Allah SWT”

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: