Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Warkah Untuk Saudariku

Posted by thinker on 14/01/2009

Wanita adalah makhluk yang banyak mendapat perhatian dari Allah dan Rasul-Nya. Lebih dari itu, mereka juga mendapatkan perhatian lawan jantinanya. Hingga tidak menghairankan jika di dalam Al-Quran terdapat nama surah khusus bagi wanita, surat An-Nisa’. Selain daripada itu, di dalam Al-Quran juga terdapat surat Maryam. Bahkan, Nabi saw dalam berbagai hadisnya banyak memberikan perhatian bagi perempuan. Sehingga bukan kebetulan jika salah satu wasiat terakhir beliau menjelang wafat adalah; an-nisa’, an-nisa’, an-nisa’. Bahkan beliau menyatakan bahawa tidak ada fitnah yang besar selain wanita.

Dewasa ini, wanita Islam banyak mengalami attack of ideology dan usaha mengaburkan nilai-nilai iman dan akidah di dalam diri mereka. Di Paris, hijab dipijak-pijak. Di Jerman juga, pemakaian khimar (kerudung labuh) merupakan jati diri Muslimah yang harus dihilangkan. Di Malaysia sendiri, ada usaha-usaha yang halus dari puak-puak kuffar (yang mengaku islam) yang memperjuangkan feminisme, kesamarataan gender, modernisme dan produk sekuler lainnya. Walhasil, ia semua adalah jalan yang menjerumuskan masyarakat, khususnya wanita islam ke lembah maksiat (kepada Allah SWT).

Tulisan ini adalah inisiatif penulis yang melihat majoriti wanita yang mengaku beragama islam, namun sudah banyak yang hilang jati diri mereka sebagai seorang muslimah. Aurat yang dipertontonkan sudah perkara biasa bagi mereka. Bercanda dan bergaul mesra dengan lelaki yang bukan mahramnya sudah menjadi kebiasaan. Bermusafir tanpa ada mahram yang menemaninya adalah maklum-maklum saja bagi masyarakat kini. Dan begitulah seterusnya. Pelbagai rentak kehidupan yang sememangnya langsung tidak berpacu dengan roda akidah islam, melainkan roda sekulerisme sudah marak dalam arena kedidupan kini.

Wahai Saudariku Muslimah!

Malu merupakan moral Islam yang sangat agung. Ia kelihatan begitu sederhana. Tapi ternyata, malu merupakan nilai yang sangat mulia dalam kehidupan seseorang, baik secara individu maupun sosial.

Malu? What is it?

Amru Khalid, seorang da’i terkenal dari Mesir di dalam bukunya ‘Akhlaq al-Mu’min (Moral Seorang Mukmin) menyatakan bahawa kita terkadang mendengar bahawa si fulan itu “pemalu”. Atau si fulan memiliki rasa malu. Jadi apa maksud dari malu itu? Maksud malu adalah: ketertekanan jiwa. Iaitu, jiwa (diri) tidak mampu untuk melakukan perbuatan-perbuatan jelek (buruk) atau sesuatu yang tidak baik. Diri tidak kuat untuk melakukannya. Seseorang pemalu tidak sanggup melihat dirinya terhina di hadapan Allah, di hadapan manusia atau di hadapan dirinya sendiri.

Dapatkah saudari rasakan indahnya kata-kata tersebut. Betapa diri yang memiliki rasa malu jiwanya akan merasa sempit. Tidak leluasa untuk berbuat sesuka hati. Tidak akan mudah mengatakan “aku punye pasal lah!”. “Aku peduli apa!”. “heh, aku yang buat, ko peduli apa?”

Subhanallah! Orang yang memiliki rasa malu adalah mereka yang peka atas diri dan lingkungannya, apalagi seorang perempuan. Jadi, mari kita konklusikan bahawa malu itu berada dalam jiwa dan hati, tapi bukan hanya kata-kata semata.

Apa kata Nabi saw tentang malu? Mari sama-sama kita hayati saudariku!

“Iman memiliki 67 cabang, dan malu adalah cabang dari iman” (HR. Bukhari (Hadits no. 9), Muslim (Hadits no. 151) dan Abu Daud (Hadits no. 4676).

Dalam sebuah haditsnya yang lain, beliau bersabda: “Iman itu terdiri dari 77 cabang, yang paling atas adalah Lailahaillallaah dan yang paling bawah adalah menghindarkan duri dari jalan. Dan malu merupakan bagian dari iman” .

Lalu di manakah posisi seorang wanita dari rasa malu ini? Masih adakah sifat malu itu dalam hati seorang wanita di tengah-tengah globalisasi yang “buta” dan tak mengenal “warna” ini? Rasa malu untuk memakai jilbab bukanlah malu. Justeru wanita Muslimah adalah mereka yang malu kalau rambutnya yang indah dilihat orang yang tidak pantas dan diharamkan untuk melihatnya. Apakah masih ada yang menganggap memakai jilbab itu ketinggalan zaman? Kemudian malu kalau tidak diurai rambutnya. Ah….saudariku! Malu itu dalam hati, bukan dalam bibir. Sebab itu, banyak sekarang wanita yang pandai “menanam tebu di bibirnya”.

Adalah salah suatu pemahaman, jika mengatakan bahawa jilbab itu merupakan pakaian orang Arab, layaknya jubah. Maka biar saja yang memakai jilbab itu orang Arab, kita kan orang Melayu, biarlah sesuai dengan adat dan tradisi, walhasil… ‘Berkhimar Tapi Telanjang’, demikian judul buku Abu Al-Ghifari. Bukankah kerudung kini lebih moden dan mengikut dunia fesyen? Lebih menarik dan memikat mata orang yang memandangnya?

Cuba kita hayati kembali sabda Nabi saw di atas. Bukankah iman itu tidak akan sempurna tanpa malu? Kerana malu merupakan cabang dari iman, bererti tanpa malu iman kita tidak akan pernah sempurna. Lalu bagaimana dengan para artis yang membuka auratnya? Apakah itu menandakan bahawa iman mereka tidak sempurna? Fikirkanlah. Apakah seseorang yang tidak mengamalkan syariat islam menghargai perintah Allah dalam Al-Quran? Bahkan, mereka juga tidak mengindahkan ajaran Nabi-Nya yang mulia. Nabi yang membawa akhlak malu, dan memang beliau adalah pemalu.

“Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulillah saw beliau berkata:”Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum aku lihat saat ini; pertama, satu kaum yang membawa cemeti (cambuk) seperti ekor sapi. Mereka memukul manusia dengan cemeti tersebut. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang (nisa’un kasiyatun ‘ariyaât). Mereka berlenggang-lenggok dan menggoyang-goyangkan kepala mereka seperti ponok unta yang condong. Wanita-wanita tersebut tidak akan masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya pun. Padahal bau syurga itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian”(HR. Muslim).

Di berbagai rancangan televisyen, fenomena pameran “tayangan ala seksi” bukanlah hal yang tabu. Sebut saja Inul yang banyak digemari oleh semua level umur di tanah air seberang. Dari anak-anak hingga kakek-kakek gemar menonton Inul. Di Malaysia, budaya berpacaran (couple) di setiap peringkat umur dan level bukanlah suatu yang aneh dan dilihat bertentangan dengan syariat islam, melainkan ia adalah perkara yang normal dan biasa-biasa aja. Di jalan-jalan, pemuda-pemudi yang berpelukan dan berciuman adalah hal yang biasa. Saudariku! Lihatlah di layar TV kalian, bagi perempuan membuka aurat dianggap sebagai “penyedap rasa” dan “bumbu pemandangan”. Tidak usah hairan jika Muslimah yang menggunakan jilbab dan khimar akan “dipulaukan”. Betapa dunia kita sekarang sudah terbalik 100%. Lelaki lebih rapi dibandingkan dengan perempuan.

Nabi saw tidak pernah meleset dalam memberikan sebuah ramalan. Wanita yang “berpakaian tapi telanjang” itu sudah berada di depan mata kita semua. Mengenakan Jeans yang ketat, sama saja dengan telanjang, kerana menampakkan bentuk dan lengkok tubuh. Memakai baju you can see dan pakaian transparan lainnya adalah kebutuhan hidup, bahkan syarat untuk disebut sebagai wanita modern dan mengikut trend.

Para wanita yang melakukan itu adalah para wanita yang ‘tidak tahu malu’. Mereka yang tidak memiliki sensitiviti islam dan muslimah sejati. Merekalah yang tidak akan mencium bau syurga Allah. Betapa ruginya mereka. Saya yakin, kalian tidak ingin seperti itu. Sungguh! Hilangnya rasa malu adalah awal dari kehancuran seseorang.

“Sesungguhnya Allah jika ingin menghancurkan seseorang, Ia akan mencabut rasa malu dari dalam dirinya. Apabila rasa malu itu telah dicabut (darinya), maka engkau akan menemuinya sebagai seorang yang dibenci dan menjijikkan. Apabila engkau menemukannya dalam keadaan demikian, maka akan dicabut dari dalam dirinya sifat amanah. Dan jika telah dicabut dari dalam dirinya sifat amanah itu, maka engkau akan menemukannya sebagai seorang yang pengkhianat dan dikhianati.

Jika engkau mendapatinya dalam keadaan demikian, maka akan dicabut dari dalam dirinya rahmat. Dan jika rahmat telah dicabut darinya, maka engkau akan menemukannya sebagi seorang yang terkutuk dan terlaknat. Dan jika engkau menemukannya dalam keadaan demikian, maka dicabutlah darinya simpul (ikatan) Islam” (HR. Ibnu Majah, Hadits 4054).

Oleh kerananya, memupuk rasa malu agar tetap terpatri erat dalam hati adalah kewajiban kita. Waspadailah fenomena hilangnya rasa malu ini, agar tidak menjadi peribadi yang hancur berantakan. Kiranya tidak ada seorang wanita pun yang akalnya waras, ingin hancur hanya kerana tidak bisa menahan diri dari godaan para wanita yang sudah kehilangan ‘brake’ dan panduan hidupnya. Hey girl, jadilah Muslimah Sejati!

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: