Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Curhat Seorang Guru

Posted by thinker on 24/01/2009


Beberapa hari lalu, saya sempat bersembang dengan seorang guru di tempat saya mengajar. Kami berborak seputar kerenah dan telatah anak didik kami. Perbahasan tidaklah terlalu mendasar, tapi ia sudah cukup membuat kami berdua tersenyum dan tergelak seketika. Tidak ada yang lucu, Cuma terkenang karektor kami sewaktu kecil dahulu. Lebih-lebih lagi saya. saya sememangnya nakal, degil dan hyper active dahulu sewaktu berusia dini. Entah bagaimana perasaan guru-guru yang mengajar kelas saya ketika itu (moga saja mereka ikhlas). Benarlah ungkapan teman saya, “Inilah kerja guru”. Haha, kami sempat ketawa dengan baris kata tersebut. Ya, memang inilah kerja guru. Memahami, bahawa sesungguhnya anak-anak yang dihantar ke sekolah adalah untuk dididik dengan pendidikan, baik agama atau akademik. Jika mereka sudah baik dan bagus, untuk apa ke sekolah? Kan lebih elok dia terus bekerja aja!

Teman, bingkisan di atas saya coret sebentar bukan untuk mengadu kepada kalian. Bukan, tidak sama sekali. Saya Cuma ingin memberi gambaran bagaimana sebuah komuniti yang kecil sebegitu pun punya bermacam-macam ragam dan kerenah. Sehingga semua itu, menguji daya kesabaran seorang pendidik. Fuhh… cuba aja kalian menjawat profesi seorang guru dalam waktu yang singkat, dan lihat sendiri pengalaman apa yang kalian dapat. Tentu melesukan.

Guys, itu semua baru kecil. Bagaimana dengan kita yang sedang menongkah arus ke depan, yang sedang berhadapan dengan manusia lainnya. Tidak hanya masyarakat sebelah rumah kita, tapi berhadapan dengan seluruh makhluk yang bergelar manusia yang serba ‘tidak kena’ ini. Bermacam-macam ras, etnik, suku, kerenah, kebudayaan, adat-istiadat, kultur sosial dan macam lainnya. Fuhh… fuhh…! tentu lebih sesak kan? Ya, bagi mereka yang kehidupannya hanya sebatas bangun pagi, kerja, pulang, makan, tidur, dan minimal mereka berkeluarga dan punya anak, tentu tidak akan berasa apa yang saya rasakan (maaf, bukan niat meninggi diri). Jika kehidupan kita, hanya sebatas untuk memenuhi sebanyak mungkin naluri (al-gharaiz) yang ada, maka kita tidak lebih, malah sama dengan khidupan haiwani. Bukankah Allah SWT berfirman di dalam al-quran:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat kebesaran (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seumpama binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raf[7]: 179 )

Apakah kalian manusia yang menggunakan akal, atau seperti binatang ternak, ataukah kalian lebih teruk dari itu? Tentu saja, kita berdoa agar terhindar dari segala macam celaan seperti yang disebutkan di dalam al-quran. Hati, mata dan telinga, itulah 3 pancaindera yang paling bernilai untuk mencerap segala apa yang berlaku di sekeliling kita. Hati kita selalu digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, lalu diamalkan dan disampaikan. Mata pula kita gunakan untuk melihat perkara-perkara yang ma’ruf. Kalaupun untuk melihat yang tidak ma’ruf, ia bukan untuk kita ‘nikmati’, tetapi sekadar melihatnya, lalu berfikir tentang kerosakan dan kebejatan manusia yang sudah tidak menggunakan syariat Allah SWT di dalam kehidupan. Lalu, dengan telinga kita gunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mendengar, mendengar dan terus mendengar. Tapi, bukan mendengar yang dilarang seperti ghibah lho! Bukan pahala, malah dosa yang kita dapat.

Sebagai hamba Allah di muka bumi ini, kita harus peka dan prihatin dengan segala apa yang berlaku di sekeliling kita. Baik yang mencakup hal-hal kemasyarakatan ataupun kenegaraan. Kita selalu menggunakan pancaindera yang Allah SWT beri ini untuk merenung dan berfikir (manthiqul ihsas), lalu mencari apa jawapan yang terkandung di dalam kitab suci berkenaannya. Tentu lebih banyak kerenah daripada anak-anak di sekolah itu. Berbagai-bagai ragam manusia dengan pola fikir yang berbeza. Ada yang pro kapitalis, ethies, free thinker, sosialis, hedonis dan berbagai-bagai pemikiran lainnya yang sememangnya bertolak belakang dari agama suci ini.

Berat memang berat. Itulah tugas sebagai hamba Allah di muka bumi ini. itulah tugas sebagai pengemban da’wah yang benar-benar ikhlas dalam rangka untuk mencari redha ilahi. Tidak mengenal keletihan yang bersifat sementara, kerana baginya keletihan itu akan dibalas dengan ketenangan di syurgaNya kelak. Pengemban dakwah tidak berasa gentar dengan segala macam ancaman kerana ancaman terbesar baginya adalah ancaman dari al-Kholiq. Tidak hanya itu, dia juga tidak terpengaruh dengan tawaran-tawaran yang tidak sejajar dengan perintah quran dan sunah. Dia tidak sanggup berkompromi dengan ayat-ayat suci Allah, walau tawaran-tawaran yang terpempang di depan mata adalah sangat lumayan. Tetapi ia tolak mentah-mentah. Mengingat sabda nabi:

“Demi Allah, seandainya mereka meletakan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan da’wah ini, tak akan aku tinggalkan hingga Allah SWT memenangkan agama ini atau aku binasa tanpa agama”

Ahli fikir Islam, Ibnu Qayyum juga menyatakan bahawa orang yang tinggi cita-citanya hanya menggantung segala urusannya kepada Allah, tidak mengharapkan sesuatu balasan kecuali ridha Allah. Tingkah laku dan etika yang menghiasi peribadinya menjadi dasar dalam berdakwah yang tidak ditukar dengan sesuatu yg merosak keperibadiannya. Sehingga jelaslah bahawa syariat Islam akan menentukan keperibadian seorang muslim yang tentunya akan tercermin dalam tingkah lakunya sehari-hari, termasuk tingkah laku dalam berusaha dan dalam menghadapi tantangan hidup di dunia.

Justeru itu, dengan perenungan kepada fakta (waqi’) yang sedia ada, dapat kita simpulkan bahawasanya umat islam kini berada dalam keadaan yang terperosok dan dihinakan oleh musuh-musuhnya. Semua itu, berakar umbi kerana tidak diterapkannya islam secara total (kaffah) di muka bumi. Syariat islam dicampakkan dan dihinakan oleh pihak kuffar, dan yang lebih ironinya adalah mereka yang mengaku sebagai muslim menggunakan al-quran hanya sebatas hal-hal ibadah, manakala aspek-aspek lainnya ditinggalkan dan dianggap sebagai tidak relevan. Saya hairan, apakah mereka sanggup berhadapan dengan Allah SWT kelak di akhirat dengan apa yang telah mereka lakukan. Bukankah perbuatan mereka itu adalas\h sama seperti apa yang dilakukan oleh pihak kuffar, dengan menginjak-nginjak kitab suci itu? Benar, mereka tidak menginjaknya secara fizik, namun mereka menginjaknya secara hukmi.

Atas dasar itu, saya seru kepada seluruhnya yang bergelar sebagai makhluk yang beriman sekali gus sebagai seorang muslim untuk segera menyahut seruan Allah SWT untuk mempelajari islam secara total, lalu beramal dengannya dan seterusnya menyampaikannya kepada manusia lainnya. Dengan kehendak dan kekuasaannya, janji Allah untuk memenangkan kebenaran itu pasti tiba.

Allah menjanjikan orang-orang Yang beriman dan beramal soleh dari kalangan kamu (Wahai umat Muhammad) Bahawa ia akan menjadikan mereka khalifah-khalifah Yang memegang Kuasa pemerintahan di bumi, sebagaimana ia telah menjadikan orang-orang Yang sebelum mereka: khalifah-khalifah Yang berkuasa; dan ia akan menguatkan dan mengembangkan ugama mereka (ugama Islam) Yang telah diredhaiNya untuk mereka; dan ia juga akan menggantikan bagi mereka keamanan setelah mereka mengalami ketakutan (dari ancaman musuh). mereka terus beribadat kepadaKu Dengan tidak mempersekutukan sesuatu Yang lain denganKu. dan (ingatlah) sesiapa Yang kufur ingkar sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang Yang derhaka. (QS An-Nur[24]: 55)

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: