Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Empati Bukan Simpati – Apa Tu?

Posted by thinker on 08/02/2009


Wow, tajuk dan pembahasan yang tidak pernah saya fikirkan sekali gus dituangkan dalam bentuk penulisan. Sekadar menghargai penjelasan yang diberikan oleh seorang sahabat yang berusaha menjelaskan kepada saya beberapa hari lalu berkenaannya. Adalah sia-sia jika ilmu yang ‘ditransfer’ itu tidak dikongsi bersama (but, not cut and paste).

Bersikap empati berbeza pengertiannya dengan sikap simpati. Sikap simpati lebih merupakan kesepakatan penilaian terhadap orang lain. Sedangkan sikap empati lebih menekankan untuk mengerti dan memahami orang lain secara emosional dan intelektual. Maknanya, kita menggunakan ketajaman mata hati untuk memperhatikan masalah orang lain, berusaha melihat kesulitan orang lain. Bersikap empati, secara sederhana adalah memandang keluar melalui kerangka pemiikiran orang lain, atau melihat dunia dan hubungan dengan orang lain melalui kaca mata orang yang berbeza. But how?

Kita dapat memulainya dengan menumbuhkan pemahaman dan perasaan dari dalam jiwa kita. Menanamkan tekad dari dalam hati untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Memiliki kerendahan hati, kesediaan berkongsi kebaikan dengan orang lain. Memiliki kesediaan hati berbagai kegembiraan di saat memperoleh kemenangan dan memberikan dorongan di saat mengalami kesulitan.

Seorang beriman, seharusnya memahami akan kepentingan empati di dalam dirinya terhadap orang lain. Sesiapa sahaja boleh memiliki sifat empati, baik muslim mahupun non-muslim. Tetapi, seorang yang beriman, ia bertindak dan memiliki sifat empati adalah didasarkan pada dorongan akidahnya. Misalnya, apabila ada musibah di kalangan kawan-kawan atau saudara se-akidah, hati kita turut mengalami kesakitan musibah tersebut lantaran jiwa kita penuh dengan nilai empati yang lahir dari sifat kasih sayang terhadap saudara se-agamanya. Daripada empati tersebut maka akan lahirnya ukhuwah kita dengan orang lain. Apabila terbinanya ukhuwah maka utuhlah perpaduan dan kasih sayang dalam sesebuah masyarakat. Tidak timbul lagi caci-mencaci, mengumpat dan mengata terhadap kelemahan seseorang. Rasulullah saw pernah bersabda: “kasihilah saudara mu sebagaimana kamu mengasihi diri kamu sendiri”. Ini menegaskan kepada kita bahawa Islam menegaskan betapa pentingnya sikap empati ini dalam membina persaudaraan Islam.

Oleh itu, mari kita renungkan dalam diri kita sejauh manakah nilai empati ini adalah dalam diri kita? Adakah hati kita terasa sedih apabila ada sahabat-sahabat kita yang mengalami musibah dan sebagainya? Begitu juga bagaimana perasaan kita sebagai muslim apabila saudara-saudara kita di Palestin dizalimi dan dibunuh dengan kejam oleh rejim Zionis? Adakah kita hanya tunjuk simpati atau empati? Tepuk dada, tanyalah iman kita! (eh, macam selalu dengar je kalimat ni).

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: