Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Trilogi Makrifat Cinta (Part 1)

Posted by thinker on 19/03/2009

syahadat_cinta

Sudah sekian lama saya tidak membuat resensi tentang novel-novel yang menjadi santapan bacaan saya. Hampir setengah dari koleksi novel saya kini masih dipinjam oleh teman-teman saya, dan masih belum dipulangkan, hehe . Jadi, kemampuan utk mengingat beberapa point yang ada di dalam novel tersebut amatlah lemah. Jadi, saya berusaha semampu mungkin untuk menulisnya agar dapat dikongsi bersama oleh teman-teman sekalian.

Novel Pertama – Syahadat Cinta

Sangat menggetarkan bertemu pemuda metropolis yang memiliki cinta dari sumber hati, bukan nafsu, mentafakuri perjalanan cintanya kepada sang Ilahi melalui wajah kekasih. Membaca novel ini membawa kita kepada pesona Islam yang tidak ekstrim. Sungguh, selalu ada keindahan di setiap lembarnya.  –  K.H Muchotob Hamzah, M.M, Wakil Rektor III Universitas Sains al-Quran (UNISIQ) Jateng dan pengasuh Ponpes Al-Asy’ariyyah Kalibeber Wonosobo

Saya jarang membaca novel sebab ia hanya bersifat fiksyen (rekaan) belaka, apalagi novel-novel popular. Tetapi, setelah membaca novel ini, anggapan tersebut hilang. Bagus sekali dan sayang untuk disudahkan. – Habib Muhsin al-Maulahela, pengamal spiritual di Banjarnegara


Ini kisah cinta dan agama. Keduanya bergolak di relung terdalam perasaan dan hati anak muda kota, dalam budaya dan tradisi yang terus bergerak dan kadang kala penuh ketegangan. Mencari cinta dan agama; menerusi novel ini, Taufiqurrahman al-Azizy mengolah gesekan-gesekan cinta dan pergolakan pemikiran Islam dengan latar pesantren (sekolah pondok) yang kian mempesona dalam sastera Indonesia yang mutakhir. – Jamal D.Rahman, Pemred Majalah Sastera Horison Jakarta

======================<>=======================

INTRO

“Maukan engkau menciumku?”

“Masyaallah, kenapa?”

“Sebab ciuman adalah bukti keberadaan cinta. Kau terpikat kepadaku kerana wajah ini, maka dia meminta bibirmu untuk mencium. Jika hati yang membawa cintamu kepadaku, maka engkau pun harus mencium hatiku. Pilih mana?”

* * *

Itulah petikan percakapan antara Iqbal – tokoh utama dalam novel ini – dengan Zaenab – gadis yang merupakan perwujudan dari sifat jamaliah Ilahi. Sebagai pemuda metropolis, Iqbal berjuang mengakhiri masa lalunya yang kelam, dan secercah cahaya Ilahi memasuki relung-relung hatinya dan membawanya ke alam pesantren. Tetapi ternyata, perjalanan ini memunculkan amuk pergolakan di dalam hatinya. Baru saja dia mulai belajar wudlu, membaca Al-Qur’an, dan bersembahyang, tetapi ia terpelanting ke lembah perdebatan, yang pada zahirnya antara ia dengan sahabat-sahabat santri, tetapi pada hakikatnya adalah antara Iqbal dengan dirinya sendiri. Baginya hatilah yang perlu mendapatkan cahaya Islam, menerangi jiwa. Iqbal berusaha memasuki dunia Islam melalui jalur hati ini, dan ternyata jalur ini membawa serta benih-benih cinta kepada Zaenab, santriwati. Tetapi ada dua gadis lain sedang menunggu cintanya : Priscilia, seorang gadis dari keluarga Kristian yang taat dan mendapatkan berbagai kekerasan dari keluarga dan sahabat-sahabatnya kerana memilih memasuki hidayah Islam; sedang gadis yang satu lagi Khauro, adalah siswi sebuah SMA yang dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya, bahkan tidak dikenalnya. Iqbal justeru banyak belajar keagungan Islam dari sebuah keluarga pengemis yang menampungnya ketika Ia lari dari pesantren kerana perseteruan-perseteruan faham religius yang sangat tajam.

Novel spiritual ini menjadi saksi (syahadat) pengembaraan religius seorang anak metro dalam tempias wajah Ilahiyah yang sarat dengan gesekan kefahaman spiritual dan pertarungan ragam tradisi.

* * *

Sangat menggetarkan menemukan pemuda metropolis memiliki cinta dari sumber hati, bukan nafsu, malah mentaffakuri perjalanan cintanya kepada sang Ilahi melalui wajah kekasih. Membaca novel ini membawa Kita pada pesona Islam yang tidak ekstrim. Sungguh, selalu ada keindahan di setiap lembarannya.

Novel ini sangat baik digarap oleh Taufiqurrahman Al-Azizy. Pemuda metropolis yang tidak pernah solat dan tidak pernah mengaji. Namun akhirnya ia mulai meniti jalan yang benar, ia bermula pada saat ia merasa bersalah kerana telah mencelakai (baca : mencederai) ibunya sendiri. Konsekuensinya adalah penyesalan, dan akhirnya ia memutuskan untuk mengaji di pondok pesantren Kiayi Siddiq di Tegal Jadin. Ternyata selama dua bulan Iqbal hanya disuruh mengambil air dari telaga. Saking kesalnya, Iqbal meluapkan amarahnya di telaga. Di sanalah ia bertemu dengan Aisyah, puteri Kiayi Subadar, sekali gus cucu Kiayi Siddiq.

Takut dimarahi Kiayi dan adanya perseteruan religius yang sangat tajam, Iqbal melarikan diri tanpa tujuan. Hingga ia bertemu Priscilia, gadis Kristian yang baik hati. Priscillia membantu iqbal mencari tempat tinggal namun Iqbal memutuskan untuk tinggal di rumah Ibu Jamilah, seorang pengemis yang hidup bersama kedua anaknya, Fatimah dan Irsyad.

Dalam perjalanan mempelajari agama Islam, Iqbal mendapat banyak cubaan, salah satunya ialah ia difitnah, lalu dimasukkan ke penjara. Namun, cubaan tersebut tidak membuatnya mundur dari tekadnya untuk menjadi orang yang taat kepada agama.

Tentang Buku :

Trilogi “Makrifat Cinta” ini terdiri dari Syahadat Cinta, Musafir Cinta dan Makrifat Cinta. Tiga novel religius pembangun iman ini dapat dibaca secara terpisah tanpa kehilangan kekuatan cerita dan maknanya, sekali gus bisa sebagai kesatuan utuh yang sangat detail dan mendalam. Trilogi ini mengusung semangat pencarian Kebenaran Islam, dengan basis argumen syari’at, Terekat dan Makrifat: impian terbesar para abdullah (hamba Allah) untuk berjumpa dengan Wajah Sang Kekasih.

Baca resensi seterusnya, Trilogi Makrifat cinta 2 – Musafir Cinta

One Response to “Trilogi Makrifat Cinta (Part 1)”

  1. […] Novel Syahadat Cinta […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: