Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Trilogi Makrifat Cinta (Part 2)

Posted by thinker on 19/03/2009

musafir-cinta

Novel Kedua – Musafir Cinta

Jujur saja, saya memulai membaca novel trilogi ini dengan novel keduanya (Musafir Cinta). Tatkala itu, saya tidak tahu bahawa novel ini mempunyai siri apatah lagi ia adalah siri kedua dari ketiga siri tersebut. Tidak aneh, kerana saya memang tidak merancang ketika membeli buku. Saya akan membeli buku, jika memang ‘kena’ dengan cita rasa dan gerak hati saya. Tapi, yang penting harus ada wang dong. Percuma, jika modalnya hanya mahu, tapi duitnya kering, hehe.

Melanjutkan novel Syahadat Cinta pada trilogi Makrifat Cinta karya Taufiqurrahman al-Azizy, Iqbal pun pergi meninggalkan pesantren Tegal Jadin. Namun ia bingung harus pergi ke mana. Tidak mungkin kembali ke Jakarta. Dimulai Basmalah, ia pun melangkah pergi menjadi seorang musafir…

Ia pun segera menaiki bas arah Solo-Purwokerto. Namun, ia tetap tidak tahu ke mana tujuannya itu. Di dalam bas, ia melihat seorang perempuan berjilbab. Lalu seorang pemuda pun duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian pemuda dan perempuan itu mulai berkenalan.  Iqbal mendengarkan pembicaraan mereka karena memang jaraknya sangat dekat. Tanpa disangka-sangka, mereka kian dekat, bahkan sang perempuan pun menyandarkan kepalanya kepada sang pemuda itu, padahal perempuan itu berjilbab. Mereka pun saling berpegangan dan semakin bermesraan. Wah-wah udah mulai nggak bener nih… (lirik hatinya)

Iqbal pun teringat pada sebuah firman Allah SWT di dalam al-Quran yang berbunyi:

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (syurga).” (TQS. An-Nur[24]: 26)

Ia pun teringat akan Aisyah. Ia teringat akan tudingan para sahabatnya bahawa ia telah berkhalwat dengan Aisyah, tudingan yang menjadi bahagian hujah yang mengadilinya sehingga dirinya harus meninggalkan Tegal  Jadin.  Seandainya mereka ada di sini, ingin sekali Iqbal mengatakan kepada mereka semua, “inilah sejati-jatinya khalwat itu!” Inilah khalwat itu. Ialah dua insan laki-laki dan perempuan yang asyik dalam lamunan kasmaran seperti kedua orang ini. Inilah makna “berdua-duaan yang diharamkan” itu. Iqbal pun menangis.

Iqbal pun berkenalan dengan seorang pemuda yang bernama Anton. Mereka akhirnya berdiskusi tentang Islam. Ternyata agama Anton adalah Agama Cinta. Wah aneh sungguh ragam agama di dunia ini. Namun di akhir diskusi, Iqbal merasa menang.

Akhirnya, bas berhenti di perhentian terakhir. Para penumpang mulai turun. Iqbal hanya diam, terkaku sambil berfikir. Ia melihat waktu untuk solat dan berdoa kepada Allah. Ia kembali teringat akan kesalahan besar di masa lalunya. Anton pun menegurnya dan ia pun kagum terhadap Iqbal.

Mereka pun menunggu bas lagi. Iqbal pun melihat segerombolan orang yang sedang menyanyikan lagu-lagu religi (lagu-lagu puisi dan syair yang berbasis kemanusiaan dan keagamaan). Namun mereka minum-minuman keras. Saat bas datang, Iqbal memutuskan untuk tetap di sini dan berkenalan dengan gerombolan itu.

Setelah berkenalan, Firman meminta wang kepada Iqbal untuk membeli minuman. Parno (sahabat firman)  melarangnya. Akhirnya Iqbal akan memberi wang jika digunakan untuk hal yang bermanfaat. Iqbal juga menawarkan untuk membelikan mereka dua buah gitar agar nantinya bisa digunakan untuk ngamen (mengemis). Ia pun mengeluarkan wang lima ratus ribu dan memberikannya kepada mereka. Terbelalaklah mereka sebab mereka tidak membayangkan Iqbal akan mengeluarkan wang sebanyak itu. Kemudian iqbal pun merasa bahawa mereka  mulai ada rasa segan terhadapnya. Iqal pun di ajak untuk bermalam rumah  Firman.

Ternyata firman merupakan orang yang berkecukupan. Ia berubah menjadi “liar” setelah adiknya diperkosa dan dibunuh. Sejak saat itulah rumah itu penuh kemaksiatan. Pagi itu, ayah dan ibu Firman melihat Iqbal sedang solat Subuh. Mereka sangat senang melihat baru kali ini ada sahabat Firman yang paling aneh, yang mendirikan solat di rumah mereka. Mereka pun menganggap Iqbal adalah mukjizat dari Allah untuk merubah kehidupan di rumah mereka. Mereka pun meminta Iqbal untuk tinggal di rumah mereka, dan Iqbal menyetujuinya.

Selama Iqbal tinggal di sana, Iqbal memutuskan untuk menghafal al-quran. Iqbal memutuskan harus menghafal tujuh ayat perhari sehingga dalam tiga tahun ia dapat menghafal Alquran (kalkulasi matematik yang praktis).

Suatu hari ia berseteru dengan Firman, tentu saja mengenai Islam. Dan Iqbal pun merasa perkataan Firman ada benarnya.  Gawatnya, Iqbal pun mulai ragu akan Islam, dan mulai meninggalkan kewajipannya sebagai muslim. Ia pun bingung dan selalu menangis. Suatu sore tatkala hujan terus melimpahkan deras air sucinya, ia pun pergi dan berlari untuk mencari gereja. Ia pun masuk dan mengadu sebagaimana seorang kristian melakukan pengakuan.

Kemudian seorang pendeta bertanya padanya, “ada apa anakku?”.

Iqbal pun meminta maaf karena telah mengunjungi Rumah Tuhan yang bukan Tuhannya. Ia pun mengatakan bahawa dirinya seorang muslim. Iqbal  mengaku tidak sanggup menemukan Tuhannya. Iqbal pun menceritakan masalahnya. Sang pendeta pun mencoba membantu mencari Tuhan yang Iqbal cari.

Kemudian yang tak disangka-sangka, sang pendeta mulai menasihati Iqbal. Sang pendeta mengatakan bahawa Iqbal telah putus asa. Dan putus asa adalah jalan yang terkutuk. Sang pendeta pun mencuba untuk meyakinkan Iqbal terhadap Allah, Tuhannya. Ia pun menyuruh Iqbal untuk meminta ampunan kepada Allah. Iqbal pun menangis. Iqbal tidak menyangka bahawa ada seorang pendeta yang sedemikian bijak bestari, luas wawasannya, dan melintas-batas keyakinannya. Ia pun kembali pulang dengan penuh semangat.

Esoknya, Indri  (kekasih Firman) datang ke rumah Firman. Iqbal yang menemuinya (Orang tua firman tidak mahu menemuinya). Iqbal pun menasihati Indri agar kembali kepada Allah. Dan secara tidak langsung menasihati Indri agar Indri menjaga kesuciannya. Indri pun menangis dan pergi dengan berlari. Wah, Iqbal pun merasa bersalah tentang apa yang dikatakannya kepada Indri. Namun ia tetap yakin bahawa yang dilakukannya demi kebaikan Indri.

Beberapa hari kemudian, indri datang kembali dengan wajah cerah. Iqbal berharap indri tidak terluka akan perkataannya sebelumnya. Indri pun mengajak Iqbal untuk mencari Firman yang memang sudah beberapa hari tidak pulang sejak berseteru dengan Iqbal.  Setelah mencari di mana-mana, Iqbal merasa capek dan minta istirahat. Saat mereka istirahat, indri cuba menggodanya. Iqbal tidak mengendahkannya, dan memutuskan untuk pulang.

Sahabat-sahabat Firman pun datang menemui Iqbal, mereka ternyata menemukan Firman. Mereka menemukan Firman sedang rebah di tempat imam di musolla. Firman pun dibawa seperti orang gila. Mereka pun menanyakan apa yang terjadi sebenarnya pada firman. Iqbal pun mengambil kesimpulan dan mengatakan bahawa firman sedang mendekati Allah. Nah, inilah saatnya Iqbal mencuba mengingatkan mereka tentang Allah. Dan ternyata mereka berniat kembali ke jalan Allah dan meninggalkan kemaksiatan. Subhanallah.

Masalah pun muncul kembali. Ternyata Okta dan Indri bertengkar memperebutkan Iqbal. Iqbal pun takut godaan setan berupa syahwatnya dan berdoa kepada Allah agar lebih baik mengambil kedua matanya itu.

Suatu kejadian buruk pun terjadi. Saat iqbal berada di kamar Firman, Indri pun datang dan masuk ke kamarnya. Indri pun menggodanya dan cuba memeluknya. Iqbal menolaknya. Saat itulah Firman datang dan melihat mereka berdekatan seperti itu. Firman marah dan menyuruh Iqbal pergi dari rumahnya. Firman pun menentang Iqbal di Alun-alun (tempat seperti padang yang luas dan lapang). Firman pun pergi.

Saat itulah Iqbal mulai mengemas barang-barangnya, kerana diusir oleh Firman. Orang tua Firman bingung apa yang sedang terjadi. Iqbal pun segera mendatangi alun-alun. Ternyata di sana ada Firman dan sahabat-sahabatnya. Firman pun berkelahi dengan Iqbal di hujannya malam. Dan saat Iqbal terjatuh, Firman menyiramkan semangkuk sambal ke mata Iqbal . Tumbukan bertubi-tubi menyebabkan Iqbal tidak sedarkan diri.

Kemuncaknya…. Akhirnya Iqbal pun tersadar. Namun Astagfirullah al’adzim, matanya tidak bisa dibuka. Kemudian sahabat-sahabatnya  pun datang. Sahabatnya kini tahu masalah yang terjadi. mereka pun membenci Firman atas kelakuannya, namun Iqbal meminta agar mereka tidak membenci Firman.

Suatu hari, Parno pun memberi tahu bahawa yang terjadi pada firman. Firman menyesali semua kesalahan di liang kubur dan cuba untuk bunuh diri. Iqbal pun segera keluar dari rumah sakit sambil dituntun oleh Parno. Di kuburan banyak orang berkumpul termasuk para wartawan. Iqbal pun cuba memujuk Firman agar  kembali kepada Allah dan masih ada waktu untuk bertaubat. Setelah sekian lama berdialog akhirnya firman pun sedar dan sejurus kemudian terdengar gemuruh takbir. Firman bersabda dengan lantunan puisinya:

Duhai Kau yang disana

Disinilah aku menunggu Mu

Setelah sekian lama aku menyakini Mu

Dan kemudian meninggalkan Mu

Kemana lagi hendak kuhentakkan langkah

Ketika aku hanya menemukan jiwa gelisah

Tak kuasa menerima takdir Mu

Tak berdaya menghadapi kebesaran Mu

Dalam kesendirian jiwa kudekati Engkau

Tetapi semakin teggelam aku dalam jalan ini

Engkau semakin menjauh dariku

Tidak begitu berhargakah diriku di mata Mu

Duhai, Tuhan yang maha kuasa

Akankah aku harus menghadap Mu melalui kematian

Agar dapat menyaksikan wajahmu

Jika aku harus mati untuk bisa menemui Mu

Sudah ku gali liang kubur ini sebagai pintu untuk bertemu dengan Mu

Saksikanlah

Asyhadu an laa ilaha ilallah

Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah…

Sebuah koran memaparkan kejadian dan kisah yang berlaku ke atas Iqbal Maulana:

IQBAL MAULANA TELAH SEMBUH KEDUA MATANYA.

Iqbal pun mulai membimbing sahabat-sahabatnya. Bahkan Iqbal membentuk sebuah kelompok bersama pengamen lainnya yang bernama Ashabul Kahfi. Berita akan dirinya pun tersiar di berbagai koran. Antara lain judul nya yakni MUSAFIR CINTA – SEBUAH PERJALANAN HATI SEORANG IQBAL MAULANA. Ia pun selalu diwawancarai wartawan.

Ia kini telah hafal al-quran, dan memutuskan untuk kembali ke pesantren seperti janjinya kepada kiayi sepuh untuk mempersunting seorang atau tiga gadis yakni Zaenab, Pricillia, atau Khaura.

Ia dihantar keluarga Firman dan para sahabatnya. Ia naik bersama keluarga Firman, sedangkan sahabatnya naik sebuah mini bus yang bertulis satu banner bertulis: “ROMBONGAN ASHABUL KAHFI”. Iqbal pun merasa sangat senang sekali dan gementar, bahawa setelah tiga tahun ini ia akan bertemu kekasihnya. Selamat tinggal Banjarnegara. Selamat tinggal  Kenangan. Semoga Allah SWT  menjadikan Banjarnegara sebagai kota yang indah dan diberkahi. Ameen.

Baca resensi resensi seterusnya, Trilogi Makrifat Cinta 3 – Makrifat Cinta

One Response to “Trilogi Makrifat Cinta (Part 2)”

  1. […] Trilogi Makrifat Cinta (Part 2) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: