Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Belajar Dari Ummu Sulaim…

Posted by thinker on 21/03/2009

solehah

Tidak hairan jika ramai orang yang mengagumi Aisyah kerana kecerdasannya. Tidak asing pula jika ramai muslimah yang mengagumi perwatakan Khadijah, Fatimah dan sebaris muslimah yang lain. Tapi jiwa saya terusik dengan satu watak lain, iaitu seorang yang ehm… teguh, cerdas dan romantis (menurut penulis).

Nama aslinya tidak banyak terungkap dalam sejarah. Ada yang mengatakan al-Ghuamayda binti Milhan. Ummu Sulaim adalah panggilan yang biasa kita sebut.

1. Wanita Teguh

Cuba kita teliti bagaimana wanita ini meyakini kebenaran yang datang padanya. Dia mengikuti dengan penuh kemantapan, meninggalkan suaminya yang pada saat itu masih kafir, Malik. Dibawa anaknya Anas bin Malik mengikuti manusia Agung bernama Muhammad untuk berhijrah. Cintanya adalah cinta yang luar biasa yang tidak pernah diragukan. Walau sebagai manusia biasa, dia mempunyai cinta yang mendalam terhadap cintanya yang sebelumnya. Tetapi ia menukarnya dengan cinta hakiki yang lebih membuatnya ghairah. Lebih dari itu, dia masih tetap bertahan dengan keteguhannya tatkala ada seorang saudagar kaya namun kafir di Madinah yang bernama Abu Thalhah melamarnya. Jika diikutkan, dia boleh meminta mahar sebanyak tujuh kebun kurma milik Abu Thalhah. Tetapi, dia lebih memilih Abu Thalhah mengucap dua kalimah syahadah sebagai maharnya. “Cukuplah keislamanmu sebagai maharku, wahai Abu Thalhah!” Ah, Ummu Sulaim…….mungkinkah itu diucapkan seorang wanita yang cinta dunia? Padahal Ummu Sulaim berstatus “single mother” pada saat itu. Bagaimana itu tak menggetarkan hati seorang laki-laki? Bahkan, keteguhan itulah yang menjadi perantara hidayah bagi Abu Thalhah. Masih adakah wanita seperti itu?

2. Wanita Pendidik

Saat hijrah bersama puteranya, diserahkannya Anas bin Malik pada Rasulullah, dididik oleh seorang yang dicintai Allah. Disuruhnya sang putera belajar dari manusia agung itu. Setiap kali puteranya pulang, maka ia akan bertanya tentang pelajaran yang dipelajarinya dari Rasulullah pada hari itu.

Diajarkannya pula pada Anas untuk menjaga rahsia Rasulullah sebaik-baiknya termasuk pada dirinya. Jadilah Anas bin Malik seorang yang paling banyak meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah. Bagaimana ia dapat dilakukan, melainkan oleh wanita-wanita yang berjiwa pendidik?

Bukan itu saja, ketika Abu Thalhah masuk Islam, bukankah Ummu Sulaim pasti “lebih faham” tentang deen? Mungkin dalam konteks sekarang, Abu Thalhah saat ini adalah seorang Mu’allaf. Tetapi dengan berkat ikhlas dan kesabaran Ummu Sulaim, ia bimbing suaminya dengan keteguhan yang ia miliki. Dengan kehendak Allah, jadilah Abu Thalhah satu dari 10 orang yang dijamin masuk syurga, sekali gus menjadi saudagar yang sangat dermawan. Bagaimana hal itu dapat dilakukan kecuali oleh isteri-isteri yang teguh, cerdas, tidak materialistik, dan penuh kesabaran? Jadi, alangkah baiknya untuk kita belajar bahawa setiap wanita muslim harus bersedia menjadi Ummu Sulaim, yang menjadi pendukung kebaikan dunia dan akhirat keluarganya? Ah Ummu Sulaim, Masih adakah wanita sepertinya….

3. Wanita Cerdik Nan Romantis

Dalam bayanganku, Ummu sulaim pastilah seorang yang mengerti benar terhadap posisinya sebagai wanita. Dia seorang ibu sekali gus seorang pendidik. Pasti kita semua pernah mendengar bagaimana kisah tentang Ummu Sulaim, bagaimana saat ia mengkhabarkan kematian puteranya pada suaminya (Abu Thalhah). Kita dapat melihat, Ummu Sulaim bukanlah seorang isteri (wanita) yang reaktif, mudah gugup, cengeng dan penakut. Ummu Sulaim (dalam konteks sekarang) memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Psikologinya matang dan dia mengerti pula psikologi orang lain. Beliau mampu mengendalikan rasa sedih, mengendalikan ucapannya dengan tenang, mengambil keputusan yang tidak gegabah. Bahkan, beliau bersedia dengan risiko dengan keputusan yang diambilnya (adalah suatu yang wajar apabila Abu Thalhah marah dan menganggap isterinya “terlambat” memberi tahu tentang puteranya yang meninggal)

Lihat bagaimana Ummu Sulaim melaksanakan kewajipannya terlebih dahulu, mengawal perasaannya dengan melayani suaminya pada hari pertama pulang perang, melepaskan kepenatan suaminya. Ah, Ummu Sulaim yang romantis dan tenang! Tidak mungkin perilaku-perilaku terpuji itu dilakukan oleh wanita-wanita yang kurang “mengenal” Tuhannya. Beliau mewarnai cubaan dari Tuhannya sebagai Cinta!

Beliau tidak langsung mengkhabarkan hal-hal buruk yang terjadi di rumah tatkala suaminya pulang “kerja”, seperti yang sering dilakukan kebanyakan isteri pada saat ini, yang suka membebel kerana marah pada suaminya. Lebih parah lagi, tatkala suaminya belum sempat melepaskan kasutnya! Aduhai!

Rentetan dari kejadian itu, Rasulullah saw membenarkan apa yang dilakukan Ummu Sulaim serta mendoakan beliau dan suaminya agar mendapat keturunan yang banyak dan soleh setelah hari itu. Bayangkanlah apa yang terjadi! Keturunan mereka selanjutnya adalah pejuang-pejuang soleh di jalan Allah SWT. Maha suci Allah…

Ah!!! seandainya wanita-wanita Muslim saat ini boleh meneladaninya. Betapa rumah tangga bagaikan syurga. Betapa banyaknya wanita-wanita yang pendidik, berpendirian teguh dan romantis. Wanita yang memahami dengan sejati peranannya sebagai isteri sekali gus ibu. Dari rahim wanita-wanita seperti itulah lahir benih-benih peradaban. Ummu Sulaim wanita yang hanif dan menghanifkan, teguh dan meneguhkan, cerdas dan mencerdaskan. Karakternya jelas, memiliki visi dan misi hidup yang jelas sehingga hidupnya teratur dan yakin terhadap pertolongan Rabbnya. Beliau merupakan contoh profil idola wanita. Semoga ada Ummu Sulaim pada hari ini dan seterusnya. Mari menjadikan anak-anak wanita dan isteri-isteri kita salah satu dari yang mengikuti jejaknya.

Wallahu’alam…

One Response to “Belajar Dari Ummu Sulaim…”

  1. Assalamu;’alaikum…
    sepertinya, tulisan ini SAMA dengan tulisan yang ana tulis bebrapa tahun lampau, saat masih mahasiswa, meskipun beberapa kata diubah.Bisa dibuka di Kafemuslimah.com dengan judul yang sama.. saya sangat mengenalinya.mungkin lebih baik jika blog ini menuliskan sumbernya, penulisnya. Bukan apa-apa..ini ide.Terimakasih,
    ROBI’AH AL-ADAWIYAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: