Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Muhasabah Potensi Diri

Posted by thinker on 23/03/2009

titis

Anak yang baik dan lucu, segala kelurusan, keteduhan, dan kejernihan wujud pada anak-anak. Mereka tidak biasa berbohong untuk mengekspresikan rasa syukurnya ketika dibelikan barang baru. Lihat saja diri kita sewaktu kecil dulu, tatkala dibelikan oleh orang tua sebarang benda yang baru. Misalnya kasut atau permainan. Padahal, mungkin saja kasut atau permainan tersebut hanyalah barang murah yang dibeli di kedai-kedai runcit atau pasar. Permainan yang lama sudah rosak. Dibelikan pula permainan baru. Aduhai, saat tidur saya letakkan permainan baru tersebut di sebelah pipi saya, dan saya akan lihatnya terus-terusan, sehinggalah saya memejamkan mata. Tidak sabar untuk menunggu hari esok! Mungkin hal ini, berlaku pada kebanyakan anak kecil, termasuk sang pembaca (jangan tipu diri sendiri).

Pertama, yang boleh kita lihat, permainan yang baru saja dibelikan tersebut tidak berharga mahal tetapi kita tidak peduli dengan harga kerana belum tahu mahal murahnya sesuatu barang. Apa yang kita tahu, barang itu BARU! Kalau menurut kita bagus, maka baguslah…. berbeza dengan orang dewasa yang kadang-kadang aspek harga, brand dan prestij yang menentukan keputusan dibelinya sesebuah barang. Sehingga sifat sombong, boros, dan egois lebih melekat pada orang dewasa, termasuk diri kita sendiri.

Kedua, di dalam sifat lurusnya anak-anak ternyata terkandung rasa syukur yang tinggi kepada Allah, walaupun barangkali belum nampak dalam kata-kata. Ia dapat kita lihat ketika kita diberi sebuah barang oleh sahabat kita sendiri, misalnya sebuah buku. Ketika Anda tidak membacanya apakah ia boleh diklasifikasikan dikatakan bersyukur? Anak-anak kadang memang bisa menjadi cerminan evaluasi bagi orang dewasa. Perbuatan baik buruknya belum tercatat oleh malaikat. Kalau kita pelajari lebih dalam lagi, rasa ‘syukur’ yang dialami orang dewasa semestinya berkembang menjadi kekuatan untuk melakukan seluruh potensi pemberian Allah ini dengan hal-hal yang lebih maksimal. Yang kadang-kadang menjadi buah mulut banyak orang. Prestasi apa yang sudah kita capai sekarang? Kita memiliki segalanya. Pemikiran dan bentuk fizik yang sempurna. Sehingga kita Sedar, betapa potensi yang diberikan Allah SWT begitu besar, dan belum dimanfaatkan secara maksimal oleh kita. Fikirkan!

Siapa yang tidak kenal dengan Helen Keller, seorang mahasiswi yang tuli, buta dan memiliki kesulitan untuk berbicara. Telah menulis beberapa buku dan telah menjadi pembicara di 49 negara. Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia baru-baru ini, Gola Gong, yang pernah menjadi jaguh badminton, lalu kecelakaan yang mencacatkan sebelah tangannya. Tapi, ia tidak menjadikan ia sebagai noktah kejayaan di dalam kehidupan. Yang terbaru, beliau telah memenangi satu anugerah berprestij di Indonesia sebagai juara penulisan dalam pendidikan (rumah dunia). Siapa sangka? Bukan hanya itu, sirah sahabat yang telah tercatat dengan bagaimana para sahabat yang kebanyakannya adalah orang yang serba sederhana, tetapi menjadi agung dan mulia di sisi Allah SWT disebabkan amal dan perjuangannya di dalam islam. Siapa yang tidak kenal dengan Salman Al-Farisi? Anak saudagar kaya dari Parsi, lalu menjadi hamba tatkala mencari kebenaran di dalam keyakinannya. Bilal Bin Rabah, sahabat yang sudah terpateri dalam catatan 10 orang yang gerenti masuk syurga. Atau Ibnu Maktum, yang matanya buta. Sirah menunjukkan kepada kita bagaimana sebuah wahyu turun kepada Rasul hanya kerana ‘Si Buta’ ini. Aduhai Ibnu Maktum.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena Telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis (malaikat). Yang mulia lagi berbakti. (TQS Abasa[80]: 1-2)

Kita sudah sepantasnya malu…. malu…. dengan pemberian dari-Nya yang sempurna. Tetapi, apa yang sudah kita hasilkan? Prestasi apa yang sudah kita buat? Dan masih banyak lagi yang boleh kita ambil ‘ibroh’ dari cerita di atas.

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: