Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Mengapa Kalian Masih Mampu Tersenyum?

Posted by thinker on 04/04/2009

najib-tun-razak
Wahai para pemimpin islam, adakah kalian masih mampu tersenyum-simpul di dunia ini. Seakan tidak merasakan segala kepedihan yang dialami oleh orang-orang yang ada di sekelilingmu. Tangisan-tangisan yang menyayat, tak juga menyebabkan diri kalian tersedar. Ratusan orang yang mati, kerana musibah, masih juga tak menyebabkan kalian ketakutan. Bahkan, tak juga mengetuk hati-hati kalian. Hati kalian menjadi keras. Tak tersentuh dengan kenyataan-kenyataan pedih yang ada di sekitarmu.

Dan, kalian masih terus tertawa tanpa henti, kerana kalian memang tidak lagi memiliki hati. Kalian masih terus mengumbar janji-janji. Betapa, kalian akan menghadap Allah Azza Wa Jalla kelak untuk mendapatkan ‘jaza’ (balasan), dan bagaimana kalian mempertanggungjawabkannya, ketika kalian telah melakukan khianat dan tidak lagi dapat menjalankan amanah.

Ketahuilah, apa yang dilakukan generasi salaf, dan salah satu di antaranya adalah Umar Ibn Khattab, penguasa (Khalifah) yang kekuasaannya meliputi jazirah yang amat luas dan begitu disegani oleh lawan-lawannya.

Namun, kekuasaannya tiada mempunyai erti apa-apa dibandingkan dengan rasa takutnya kepada Allah Azza Wa Jalla. Umar yang lebih mengutamakan keselamatan rakyatnya, hingga hatinya menjadi tergoncang hebat, ketika ada seorang rakyatnya menderita akibat tertimpa gempa. Umar mendengar rintihan orang yang sakit, keluhan orang yang kehilangan haknya dan mengatakan kepadanya :

“Takutlah anda kepada Allah, hai Umar!”   Nah, pernahkah anda mendengar peristiwa seperti itu saat ini…? Di mana .. , dan bila .. ?

Lalu, beberapa orang mengejar lelaki itu dengan murka, tetapi Umar memanggil mereka agar kembali ke tempat semula. Di mana Umar duduk di dalam sebuah majlis, ketika seseorang masuk, dan menghampirinya seraya mengutarakan perasaannya, yang sangat tidak suka atas musibah yang dialaminya bersama keluarganya akibat gempa bumi.

Orang itu, yang menerobos masuk ke dalam majlis sambil menyemburkan kata-katanya: “Oh, Andakah Umar? Bencana dari Allah akan menimpamu, hai Umar!”. setelah mengucapkan kalimat itu, lelaki itu pergi meninggalkan Umar. Orang yang pergi dipanggil semula oleh, sambil menyuruhnya duduk kembali. Lalu, orang yang mengatakan : “Bencana dari Allah akan menimpamu Umar!” itu ditanyai oleh Umar.

“Hai kawan, kamu berkata bahawa saya akan memperoleh bencana dari Allah SWT … , Kenapa?” tanya Umar. “Ya”, ujar lelaki itu, “Kerana para pegawai dan pembesar Anda tidak menegakkan keadilan, malah berbuat penganiayaan”. “Pegawai-pegawai saya yang mana yang Anda maksudkan?” tanya Umar. “Pegawai Anda yang berada di Mesir, yang bernama ‘Iyadh bin Ghanam”, ujar lelaki itu. Tak lama setelah mendengarkan pengaduan lelaki itu, dipilihlah oleh Umar dua orang di antara para sahabatnya itu, kemudian Umar berpesan,” Berangkatlah tuan-tuan ke Mesir, dan segera bawa ke sini ‘Iyadh bin Ghanam.” Dan, ‘Iyad bin Ghanam dipecat oleh Umar ra sebagai gabenor kerana telah lalai dan tidak memperhatikan rakyatnya yang terkena musibah.

Lelaki yang tubuhnya tinggi besar, dan memiliki keberanian yang luar biasa ini, tiba-tiba menjadi gementar, longlai dan tak dapat tegak berdiri ketika mendengar,  “Tidakkah Anda takut kepada Allah, wahai Umar?” Apakah ada pemimpin yang merasakan hal sebegitu saat ini?

Saat Umar menghadapi sakaratul maut, dia berkata kepada puteranya Abdullah,  “Hai Abdullah, pindahkanlah kepalaku dari bantal ini, letakkanlah di atas tanah, semoga Allah memberi belas kasihan padaku,” ucap Umar. Tidak ada bencana yang lebih ditakuti oleh Umar, kecuali yang dikhuatirkan akan menimpa nasibnya, di samping bencana dijauhkan dari redha Ilahi, dan menyimpang dari Rasul-Nya.

Umar mencatat hari kelahirannya yang baru, ketika ia mengucapkan dua kalimah syahadat di depan Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, “Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah utusan Allah”.

Ia khawatir saat ucapan-ucapannya yang telah lalu itu, yang keluar dari mulutnya itu menyimpang dari garis kebenaran. Ia begitu mengkhuatirkan perbuatan-perbuatannya tergelincir dari jalan yang seharusnya dilalui, iaitu al-haq. Umar begitu cemas, jika kehidupannya ternoda oleh dosa-dosa kehidupan, yang tidak dapat diampuni oleh Rabbnya. Sebab itu, kehidupan Umar selalu penuh dengan kegelisahan, yang menghasilkan kemantapan jiwanya.

Walaupun begitu, apabila matanya hendak terpejam, selalu diisinya dengan berfikir dan berkarya. Makan hanya sekadar menunjang hidup. Ia jarang tidur, sehingga boleh dikatakan ia selalu terjaga. Ungkapannya,

“Jika saya tidur malam, bererti saya telah mengabaikan diri saya. Dan, jika saya tidur siang, bererti saya mengabaikan rakyat jelata,” ujar Umar.

Semua rasa malu, kecemasan dan ketakutan, serta keinginan kebaikan dan cita-cita mulia yang dirasai oleh Umar. Ia tiada lain, hanyalah kerana Umar bingung dan tidak tahu apa yang akan dikatakan kepada Rabbnya nanti di akhirat… Subhanallah.

Bagaimana seorang pemimpin yang rakyatnya ratusan, bahkan ribuan dan ratusan juta, meninggal terkena musibah, tapi masih tersenyum-simpul, dan tidur nyenyak sambil bermimpi tentang kekuasaan? Bagaimana mereka di hadapan Allah Rabbul Aziz nanti?

Sedarlah Wahai Para Pemimpin Yang Mendambakan Kekuasaan Dunia Yang Bersifat Sementara!

Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: