Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Getaran Cinta Beraroma Nafsu

Posted by thinker on 23/04/2009

“Ya Allah, wanita itu begitu menggoda hati hamba, apakah hamba telah jatuh cinta padanya? Apakah dia adalah sosok pujaan hati hamba selama ini? Ya Allah, kenapa kerisauan di hati ini selalu menimpa pada saat tak bertemu dengannya? Ya Allah, adakah dia begitu mempesonakan? Ya Allah, bimbinglah cinta ini ke jalan yang Engkau redai.”

Itulah kata-kata yang sering terlontar dari bibir dan bisikan hatinya. Kata-kata yang terangkai dari kegelisahan yang tidak pernah selesai. Kalimat yang tersusun dari gejolak yang sering memberontak dalam jiwanya.

Hatinya sering menjerit. Ia seakan tidak sanggup mengawal perasaan yang selalu bergemuruh dalam dadanya. Apatah lagi pada saat berhadapan dengan wanita itu. Tatkala ia bersemuka dengannya, ada rasa kegembiraan yang begitu sulit ia gambarkan. Ada kecemasan yang tidak ia fahami. Pertemuan-pertemuan yang selalu tak terduga. Ketika bersua di pejabat, kantin, dalam sebuah acara dan bahkan pada saat nama wanita itu disebutkan. Hatinya bergetar, dadanya sesak dan gejolak-gejolak yang tak ia fahami seakan berupaya menguasai hatinya.

Sering kali ia berusaha menghindar, namun waktu seakan berusaha untuk mendekatkan jarak antara dirinya dengan wanita tersebut.

Ia telah berupaya mati-matian untuk membuang ingatan yang acap kali menjelma dalam fikirannya. Ia juga sering bertarung dengan bisikan-bisikan yang selalu menggoda hatinya.

Ia tahu, sebagai seorang lelaki perasaan itu wajar muncul. Tetapi ia hairan, kenapa pada saat ini dan kepada sosok wanita ini? Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia sering kali menangis. Menangisi dirinya yang begitu lemah, mudah goyah dan berubah.

Akankah cinta berbahagi? Banyak gejolak dan pertarungan yang muncul dalam hatinya.

Dalam tangisnya ia sering berkata, “Aku tak boleh lemah, aku tak boleh berkongsi cinta ini. Aku tak ingin mengkhianati orang yang selama ini telah mencurahkan perhatiannya padaku. Tapi, aku tak kuasa membendung gelombang perasaan yang selalu menyesakkan ruang dada ini.

“Kalau aku tahu akan seperti ini, aku menyesal dengan pertemuan itu. Aku tidak akan mahu melalui kegiatan harianku seperti sekarang ini. Tapi semuanya sudah terjadi, tak ada yang perlu disesali. Penyesalan saat ini, tidak akan memberi sebarang erti”.

Wanita tersebut adalah rakan sekerjanya. Seorang wanita yang menurut penilaiannya begitu… “Ah, begitu sempurna,” decaknya berulang kali penuh kagum. Seorang wanita yang punya segalanya. Bahkan fikirannya sering melayang jauh agar dapat lebih dekat dengan wanita tersebut. Tapi, seketika ia sedar, fikiran-fikiran seperti itu salah dan tidak layak.

Saat ini, ia telah menikah dengan seorang wanita pilihan orang tuanya. Ia memang jenis seorang anak yang patuh. Demi cintanya pada orang tua, ia rela merealisasikan segala permintaan orang tuanya selagi tidak bertentangan dengan syariat islam. Apalagi sebagai seorang anak sulong, ia harus menjadi teladan bagi adik-adiknya dalam kepatuhan kepada orang tua.

lalu ia sedar, telah sekian bulan menikah, rasa cinta belum hadir di relung hatinya. Kehidupan rumah tangganya masih sunyi dari canda dan tawa. Ia masih belum sepenuhnya dapat menyesuaikan diri dengan wanita yang saat ini sedang hidup bersamanya.

Ia merupakan seorang wanita yang kalau berbicara begitu sanggup memukau pendengarnya, seorang wanita yang kata-katanya mampu membuat telinga para lelaki tahan berlama-lama mendengarkannya. Seorang wanita yang punya kecerdasan berfikir yang tinggi dan berkarisma. Tidak hairan, jika banyak staf yang melirik padanya dan berharap dapat menjadi pendampingnya. Hanya saja, ia sudah punya hasrat untuk melanjutkan pelajarannya dalam bidang PhD, kemudian barulah menikah.

Salah seorang dari sekian staf yang menyimpan perasaan itu adalah dirinya. Sejak dulu, ia mendambakan wanita yang cerdas, berkarisma dan berprestasi seperti dirinya. Ya, ia ingin punya isteri yang ‘perfect’. Tapi takdir berbicara lain, ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan orang yang tidak ia kenal sebelumnya.

Hari-harinya tidak pernah tenang, ia diliputi dua perasaan yang berlawanan, dua cinta berusaha mengambil alih dan merebut mahkota hatinya.

Isterinya, walau tidak begitu berprestasi di bangku kuliah,tetapi ia dikenal sebagai wanita yang gigih dan taat pada agama. Ia telah menyelesaikan pengajian Sarjananya di Al-Azhar, Kairo. Setelah tamat, ia terus pulang ke tanah air dan dijodohkan dengan dirinya sekarang.

Sebenarnya isterinya adalah seorang yang tidak kurang hebatnya. Dahulu ia adalah seorang aktivis pelajar yang sering melantunkan hujah-hujahnya di mimbar-mimbar debat dan diskusi Universiti. Ia juga sering menghadiri berbagai talaqi dan diskusi ilmiyah, dan sangat menonjol semasa di bangku kuliah. Di sisi lain, isterinya memiliki keperibadian yang baik dan solehah, serta seorang yang patuh menjalankan perintah agama. Seorang yang sangat cinta pada Al-Quran dan buku-buku hadis. Dua pedoman itu seakan tidak pernah lepas dari genggamannya. Yang selalu ia bawa, baca, renungkan, hafalkan dan amalkan. Satu hal inilah yang menjadi perbezaan yang menonjol antara isterinya dengan wanita idamannya sekali gus rakan sekerjanya.

Waktu terus berjalan. Isterinya tidak pernah bosan menunjukkan rasa cintanya. Isterinya memang seorang yang sangat penyabar. Seorang wanita yang berhati lembut dan berkeperibadian matang. Seorang wanita yang dari pancaran air mukanya terlukis ketakwaannya. Mengapa tidak, hampir setiap malam ia tidak pernah meninggalkan amalan solat tahajud. Bahkan membaca Al-Quran seakan ‘makanan’ yang tak pernah ia lupakan.

Ia sendiri hairan, kenapa dirinya belum sepenuhnya mencintai wanita yang telah halal baginya. Dan kenapa cintanya ingin berlabuh pada wanita yang tidak halal bagi dirinya.

Inikah akibat dari mata yang tidak terjaga? Inikah akibat dari mengikuti bisikan-bisikan hawa nafsu?

Pada suatu malam, ia dikejutkan oleh suara tangis yang menerobos ruang telinganya. suara itu berasal dari ruang tengah rumahnya.

Ia bangun dan mengikuti sumber suara itu. Suasana ruang tengah remang-remang, ia melihat isterinya tengah bersimpuh, mengangkat kedua tangannya ke langit. Isterinya sedang berdoa pada Allah.

“Ya Allah, Tuhan yang menggenggam jiwa hamba, betapa diri ini mencintai-Mu. Betapa kerinduan hamba pada-Mu terus membuncah. Betapa hamba tak tahan lagi untuk segera bertemu dengan-Mu, Ya Allah kurniakanlah hamba syahid di jalan-Mu. Ya Allah, hamba bersyukur pada-Mu, karena Engkau telah mengabulkan doa hamba selama ini. Engkau telah menganugerahkan hamba seorang suami yang baik, prihatin serta menjalankan tanggungjawabnya. Hamba bersyukur pada-Mu ya Allah. Hamba mencintai dirinya karena-Mu. Ya Allah jadikanlah cinta kami karena-Mu, untuk-Mu dan ikhlas karena-Mu, dan jadikanlah cinta kami menjadi jalan menuju syurgaMu.”

Ia terharu dan tak sanggup membendung perasaannya. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Fikirannya jauh melayang tentang dosa-dosanya pada isterinya. Ia telah mengikuti bujuk rayu syaitan dan hawa nafsunya selama ini. Ia merasa telah mengkhianati cinta isterinya yang selama ini tulus diberikan padanya. Syaitan dan hawa nafsu berusaha untuk menghancurkan ketulusan cintanya dan kehidupan rumah tangganya. Dan ia pun tersedar dari kekhilafannya selama ini.

Ia tidak tahan lagi, segera ia memeluk isterinya, dan tangisnya semakin berderai, bagaikan seorang anak kecil berpangku pada sang ibu. Ia menyesali segala perbuatannya pada masa lalu.

Sejak saat itu, hatinya telah kembali tenang, bunga cinta di taman hatinya telah tumbuh dan mulai bermekaran. Dan sejak saat itu, cintanya pada isterinya begitu besar. Ia bersyukur pada Allah, kerana telah menyedarkan dirinya dan telah menganugerahkan padanya seorang wanita yang solehah dan taat pada suaminya.

Wallahu’alam…

p/s : Tulisan ini, adalah inspirasi dari curhat seorang teman yang saya olah sedikit untuk memberi gambaran ilustrasi pada pembaca. Penulis juga terkesan dengan buku Novelis tersohor dari Indonesia, iaitu Kang Abik, yang berjudul “Pudarnya Pesona Cleopatra”. Moga dengan tulisan ini, dapat memberi input, walau hanya sedikit, tetapi memberi kesedaran bagi sesiapa yang sedang dilamun cinta berbasis syahwat semata.

2 Responses to “Getaran Cinta Beraroma Nafsu”

  1. Salam,

    Ya akak tahu cerita ini. Akak ada buku Kang Abik : Pudarnya Pesona Cleopatra.

  2. Shah said

    Aku tewas dengan cerita ini… mantap la penulis novelnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: