Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Seperti Keldai Membawa Buku

Posted by thinker on 16/05/2009

Saya memandang deretan buku-buku yang saya miliki. Saya memandangnya sambil mengerutkan dahi dan merenung sejenak. Ah, merenung lagi. Setiap bulan saya membeli satu, dua atau tiga buku, yang memang telah saya peruntukkan sebelumnya. Sehingga pada saat ini sudah terkumpul hampir 2-3 ratus buku, mulai dari non-fiksyen dan fiksyen. Saya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mempunyai sebuah perpustakaan besar berisi buku-buku yang bermutu dan bermanfaat.

Kadang kala, saya membeli buku tapi saya tidak langsung membacanya, paling minimum, saya akan membacanya sedikit tanpa menghabiskannya. Saya tidak menganggap membeli buku sebagai suatu perkara yang merugikan, bahkan ia adalah investasi jangka panjang bagi saya. Suatu saat nanti, saya berharap buku-buku itu akan saya baca dan menjadi bahan rujukan bagi setiap tulisan yang saya buat. Daripada tulisan pula, saya akan mengumpulkannya dalam satu draf yang akan menjadi sebuah buku. Dari buku itu pula, saya akan mendapat pendapatan tambahan. Bahagia bukan?

Tapi saya sedar, seolah-olah ada beban berat yang menekan dada saya. Saya mengetahui suatu hal iaitu… insyaAllah saya mendapat pahala daripada pencarian ilmu tersebut. Tapi itu belum cukup, ada tanggungjawab yang perlu saya jalani setelah saya mendapatkan ilmu, iaitu mengamalkannya. Itulah yang menjadi beban saya. Ilmu yang diperoleh bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain lewat dakwah. Itulah beban yang sedang saya fikirkan. Ilmu pengetahuan yang saya dapat, harus saya curahkan dan disampaikan kepada orang lain, sama ada melalui lisan, perbuatan dan teladan lainnya. Sebab itu salah satu sebab mengapa peradaban Islam terus berkembang pada masa lalu, adalah disebabkan berhasil memadukan antara ilmu (theory) dan amal (practic).

Di dalam Islam, tradisi penyatuan antara ilmu dengan amal adalah amat penting. Sehingga ada pepatah arab berbunyi, “Al-Ilmu Bila Amalin, Kas Syajari Bila Tsamarin – Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan ilmu yang tidak berbuah”. Ada konsep “fasiq”, di mana seseorang yang berilmu (walaupun berstatus alim ulama’) tetapi berbuat jahat, ia terkategori sebagai fasiq, dan jika hal ini terjadi pada seorang perawi, maka periwayatan dan beritanya perlu diteliti. Jika dia fasiq, maka sebahagian ulama melarangnya menjadi saksi di dalam pernikahan atau pengadilan.

Di dalam ilmu hadis, ada ilmu Jarah wa Ta’dil, yang secara terbuka mengungkap sifat-sifat buruk perawi hadis, seperti pembohong dan sebagainya. Oleh kerana itu, di dalam tradisi keilmuan Islam, kita akan menjumpai para ilmuwan yang sangat tinggi ilmunya, sekali gus seorang yang soleh dalam beragama. Itu dapat kita jumpai pada Imam-imam mazhab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Taymiyah, dan sebagainya. Mereka hanya setakat bergelar para ilmuwan, tetapi juga para mujahid dan ahli ibadah.

Tradisi seperti itu tidak terjadi dalam sistem keilmuan di Barat yang sekular. Di dalam tradisi ilmu yang berakar pada tradisi keilmuan Yunani, iaitu pemisahan antara orang pintar dan orang soleh.

Banyak ilmuwan yang bijak, pintar dan dihormati oleh masyarakatnya, meskipun sikapnya bejat. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting madman). Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi orang peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens.

Ernest Hemingway, seorang ilmuwan yang genius dan peraih anugerah Nobel Sastera tahun 1954, tidak memiliki agama yang jelas dan ia ditemukan mati bunuh diri. Foucoult, ilmuwan yang sangat dikagumi aktivis Islam Liberal, adalah ilmuwan yang suka main perempuan dan mabuk-mabukan.

Islam jelas sangat berbeza dengan agama yang lain, termasuklah agama Yahudi. Islam sangat menghargai orang yang menuntut ilmu sekali gus orang yang mengamalkannya. Di dalam agama Yahudi, mempelajari ilmu itu memang suatu kewajiban bagi mereka, sehingga sangat banyak orang-orang Yahudi luar biasa cerdasnya, sebut saja, misalnya, Albert Einstein. Namun mereka kerap tidak mengamalkan ilmu yang mereka miliki untuk kebaikan. Mereka mengetahui Taurat, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (TQM Al-Jumu’ah [62]: 5).

Apa yang dimaksudkan dengan “tidak memikulnya” pada ayat di atas adalah, tidak mengamalkan isi Taurat. Dalam ayat itu juga Allah mengibaratkan mereka seperti “keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” “Keldai” sinonim dengan binatang yang bodoh dan lambat, bahkan ia akan bertambah lambat tatkala membawa kitab-kitab yang tebal. Kitab-kitab itu sendiri berisi ilmu pengetahuan yang bermanfaat, namun kerana yang pembawanya mempunyai bersifat buruk, jadilah ilmu itu tidak bermanfaat baginya. Ilmu itu hanya untuk ilmu itu sendiri. Mereka sibuk berfikir pada bentuk-bentuk lahiriah semata. Dan inilah yang mengakibatkan mereka menjadi penganut fahaman materialisme. Semoga kita terhindar dari yang demikian itu. Na’udzubillah Min Dzalik.

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: