Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Seorang Ibu yang Tidak Cantik

Posted by thinker on 27/05/2009

Ibu itu tampak letih. Dengan tubuh gemuknya, ia duduk meneduhkan diri di bawah pohon yang rendang. Duduk di kerusi kayu yang kelihatan seperti menjadi sebahagian daripada pohon itu. Ia seperti melamun, entah memikirkan apa. Wajahnya tampak biasa saja, dan ya, tidak cantik. Wajah itu hanya memancarkan irama kesabaran seorang ibu. Begitulah tafsiran firasatku.

Tidak jauh dari situ, teriakan anak-anak yang tengah bermain di arena lapangan. Di situ terdengar suara-suara yang mendengungkan keceriaan dibandingkan kicau burung-burung di pucuk-pucuk pohon. Berkejaran, berlari, mengatasi rintangan. Tertawa senang, melaung ketakutan, bahkan ada yang hampir menangis, semuanya mendendangkan lagu kegembiraan.

Tiba-tiba seorang anak lelaki bertubuh ramping berlari-lari ke arah ibu tadi. Tanpa sebarang intro, anak itu tadi mendarat ke pangkuan sang ibu, dan berteriak senang, “Umi, saya berani! Saya boleh!”

Sang ibu tersenyum lebar, mengimbangi kegembiraan sang anak. Sang anak bercerita lengkap bagaimana ia melepasi detik-detik mendebarkan ketika melakukan larian yang kencang tanpa dapat dikejar teman-temannya. Ia bercerita dengan susunan kata yang menggemaskan yang menggambarkan saat-saat seru tatkala dapat melepaskan diri dari kejaran temannya sambil berteriak.

Sang ibu mendengarkan dengan wajah bangga. Keprihatinan sang ibu membuat anaknya semakin membuncahkan kegembiraan sang anak. Nyatalah bagi sang anak, bahawa sang ibu adalah orang pertama yang berhak mengetahui prestasi terbaiknya. Hanya sang ibu, lalu ibu, dan ibu. Bukan orang lain!

Tak lama kegembiraan itu pun terusik, ketika datang seorang anak yang lebih kecil, yang menghambur pula, namun dengan wajah murung. Rupanya ia iri dengan kepantasan abangnya, dan merajuk untuk meniru keberanian sang abang.

Sang ibu sedikit menunduk, membisikkan kata-kata entah apa, untuk menghibur sang adik. Adik tadi masih merajuk, memeluk sang ibu dengan air mata yang mulai mengembang. Ibu tadi pun mempererat dakapannya, meluruhkan kegalauan hati sang anak. Bagi sang adik, sang ibu adalah tempat pertama baginya untuk menceritakan seluruh kegalauan hatinya. Bukan orang lain. Dan sungguh ia merasa beruntung memiliki seorang ibu yang memiliki hati seluas samudera, yang mampu menampung apa saja keluh kesah sang anak.

Saya tidak tahu persis apa yang dikatakan oleh sang ibu, kerana dialog privasi keluarga itu berlangsung lirih. Namun sangat jelas bahawa sang adik telah terlipur (terhapus). Wajahnya beransur tenang. Keluh kesahnya telah tersampaikan. Sang ibu menampungnya dan menggantinya dengan mengalirkan kasih sayangnya. Kasih sayang yang ternyata mampu meredakan keluh kesahnya.

Dalam keadaan ini, betapa redupnya kecantikan dibandingkan kilau cahaya kasih sayang. Betapa tidak berertinya paras kecantikan di mata sang anak dibandingkan harapannya terhadap limpahan cinta sang ibu.

Sang abang, yang telah puas menuangkan citra kebahagiaannya kepada sang ibu, kembali melesat berlari, meninggalkan sang ibu, dengan semangat yang telah diperbaharui. Sang adik menunggu di pangkuan sang ibu.

Bagi abang yang baru melepasi tahap kanak-kanak, dan adik yang masih kecil itu, barangkali sang ibu adalah segala-galanya bagi mereka. Sehingga wajar jika Islam mengajarkan satu doa yang indah, “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku sewaktu aku kecil.”

Lewat ibulah seseorang itu mengenal kasih sayang buat pertama kalinya, yang dengannya seorang anak manusia bisa belajar bahawa Allah itu Maha Penyayang. Kesimpulannya, guru pertama yang mengajarkan pelajaran cinta dan kasih sayang Allah adalah sang ibu. Wajar jika manusia pertama yang berhak mendapatkan bakti seorang anak manusia adalah sang ibu itu sendiri.

Namun ironisnya, kerana sang ibu jugalah seorang anak manusia belajar secara keliru tentang hakikat dunia ini. Mungkin kerana ia keliru memaknakan sifat-sifat-Nya. Seorang ibu, yang kasih sayangnya meredup, teredam gejolak duniawi yang memang sering meluruhkan keimanan, dapat menjadi guru yang teramat buruk untuk anaknya. Seorang ibu yang kesabarannya berganti dengan kegusaran, kata-kata manisnya terusir oleh herdikan, dan perhatiannya hanya tertumpu kepada dirinya sendiri. Ibu seperti ini seharusnya perlu rajin meminta kepada Allah SWT agar dipulihkan kembali ‘energy’ kasih sayangnya. ‘Energy’ yang sejatinya ada pada diri setiap manusia, yang telah Allah titipkan sejak ia lahir.

Ibu yang tidak pernah mengenalkan kepada anaknya kasih sayang-Nya, betapa ia cantik sekali pun, takkan menjadi pelabuhan bagi anaknya untuk belajar menjadi hamba Allah yang baik.

Namun bagaimana jika kita temukan kasih sayang yang berpadu dengan kecantikan? Alangkah indahnya ketika kita menerima anugerah tak terperi seperti ini. Kita harus mengimbangi getaran jiwa ini, dengan kata-kata Subhanallah, Walhamdulillah, WallahuAkbar!

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: