Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Sabar Itu Tidak Mudah, Tapi Tidak Sukar Melakukannya

Posted by thinker on 02/06/2009

Peristiwa 2 tahun lalu,

Pagi itu, saya sudah lewat bangun dari tidur. Perjalanan menuju ke tempat kerja paling cepat mengambil masa 15 minit (memecut dengan kelajuan maksimum). Jam sudah menunjukkan jam 10.00, dan saya belum siap semuanya. Manakala saya harus punch card selewat-lewatnya jam 10.30. Aduh, saya sedikit kaget dan tergesa-gesa. Situasi seperti inilah yang saya benci, tetapi sering muncul dalam diari hidup saya hampir saban hari.

Saat akan berangkat menuju tempat kerja, saya sudah dicemari pemandangan yang sungguh tidak mengenakkan. Di tengah kesesakan lalu lintas pagi, saya menerjah perjalanan dengan motosikal. Jam menunjukkan jam 10.25. Saya terus berlari dengan kencang setelah meletakkan motosikal di tempat biasa. Menuju ke lif dengan degupan jantung yang tidak perlahan. Penyaman udara bangunan berfungsi, tetapi badan saya tetap hangat. Lif di sini, memang selalu menguji kesabaran. Manakan tidak, setiap kali turun dan naik, jarang sekali hendak berhenti. Melainkan kita menekan kedua-dua butang menghala ke bawah dan ke atas. Walhasil, kita perlu turun untuk naik, dan perlu naik untuk turun. “Memang dunia sudah terbalik”, bisik hati.

Lif terbuka di tingkat 2. Saya lihat jam tangan 10.30. Saya terus berlari secepatnya dengan kurang berhati-hati. Tiba-tiba… DHUS! saya berlanggar dengan seseorang di selekoh sebelum sampai di kedai tempat saya bekerja. “sori bang”, suara pemuda yang saya langgar, dengan nada ramah. Saya tidak sempat berfikir apa-apa, kerana fikiran hanya terfokus pada jam dan punch card.

Tuttt! 10.31, waktu yang tertera pada punch card. Aduhai, kecewa bercampur geram. Nampaknya pengorbanan yang telah saya lakukan sepanjang perjalanan tadi menjadi sia-sia. Jumlah tanda merah dalam punch card sudah menjadi 5 termasuk hari ini. Aduhai, sukarnya menghadapi saat-saat begini. Saya bukanlah tergolong staf yang kerap datang lewat. Cuma kebelakangan ini, saya selalu tidur lewat kerana hal-hal yang perlu diselesaikan.

Terjadilah, hal yang tidak diingini dalam diari kerja saya. Bos mendatangi sejumlah para pekerjanya yang sering datang lewat, berdasarkan punch card yang telah diwarnakan dengan warna merah. LEBIH DARIPADA 5! dan saya termasuk dalam list itu. Sejumlah jawapan yang agak jujur diberikan, namun Bos hanya tersenyum dan menumpahkan ketidakpuasannya dengan rungutan yang kurang sedap didengar.

Setelah kejadian itu, saya meneruskan hari tersebut dengan sedikit tegang. Baik ketika melayan pelanggan, atau ketika berkomunikasi dengan teman-teman sekerja, semuanya jadi tidak kena. Semuanya, gara-gara… TERLAMBAT!

Gara-gara kejadian yang tidak diingini itu, semuanya jadi tidak beres. Kawan yang sedang bercanda cepat saya tanggapi dengan serius dan tegang. Saya mudah tersinggung dan hilang kesabaran. Hanya menunggu giliran di mesin fotokopi sudah membuat saya mendengus, apalagi jika menunggu mesin fotokopi yang sedang diperbaiki. MasyaAllah, mungkin saya bakal bertukar menjadi The Incredible Hulk, haha (just kidding). Hari itu, saya betul-betul menjadi orang yang tidak penyabar.

Melihat kejadian yang menimpa saya itu, tiba-tiba saya sedar bahawa akibat sikap saya itu ada orang yang secara tidak sengaja sudah saya zalimi. Saya masih ingat, bagaimana ekspresi wajah teman-teman yang sebelumnya akrab dan mudah bergaul dengan saya, ketika dengan nada ketus saya bilang ‘penat’ ketika mereka mengajak saya bermain futsal setelah selesai kerja. Saya seperti tersedar mengapa keponakan saya yang lucu dan manis itu, tiba-tiba saja menolak saya peluk, mungkin kerana sikap saya kelmarin yang tidak seperti kebiasaannya. Astaghfirullah…… saya merasakan ada air hangat di pelupuk mata saya dan rasa penyesalan yang mendalam. Sedikit tekanan dan persoalan saja ternyata telah mengalahkan kesabaran saya…..bagaimana jika saya menghadapi cubaan dan tekanan hidup yang lebih besar lagi? Apakah saya masih mampu bersabar menghadapinya?

Saya merasa menjadi orang yang kalah. Kalah memerangi hawa nafsu dan mempertahankan kesabaran saya. Padahal sabar adalah salah satu ciri orang yang beriman dan bertakwa. Saya kembali teringat sebuah artikel di dalam majalah yang pernah saya baca. Dalam artikel itu disebutkan, Rasulullah SAW yang mulia pernah mengatakan bahawa sabar adalah bahagian dari iman. Lalu, saya buka lagi buku catatan kecil yang selalu saya bawa dalam beg saya, di sana ada catatan sejumlah firman Allah dalam Al-Quran tentang pentingnya memiliki sifat sabar.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (TQM Az-Zumar[39]: 10)

”Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga serta bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (TQM Al-Imran[3]: 200)

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah ) dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang khusyu.” (TQM Al-Baqarah[2]: 45)

Saya meresapi kembali ayat-ayat Al-Quran itu. Ah… bersikap sabar itu memang tidak mudah, apalagi ketika menghadapi persoalan berat atau merasa dizalimi oleh orang lain. Tapi itulah ujian bagi umat manusia. Ujian atas keimanannya. Bukankah Allah SWT juga mengatakan, belum sempurna iman seseorang sebelum Ia mengujinya.

Wajah keponakanku (anak buah) yang polos itu kembali terbayang di mata saya. Segera pinar perjuangan Rasulullah SAW ketika menghadapi tentangan sepanjang hidupnya dengan kesabaran. Sabar… sungguh sebuah kata yang mudah diucapkan, tapi kadang sulit dilaksanakan, kecuali bagi orang-orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT.

Pagi itu,

Saya datang lebih awal. Segera saya berwudhu’, menuju surau kecil di aras 1 dan menunaikan solat sunat Dhuha. Saya memohon ampunan pada Allah yang Maha Rahmah dan saya memohon agar senantiasa diberi kekuatan dan kesabaran dalam menjalani kehidupan yang penuh ujian dan cubaan ini.

” Robbanaa afrigh ‘alaina shabraw wa tawaffanaa muslimin.”

(Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu).

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: