Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Menapaki Mimpi Di Taman Langit

Posted by thinker on 06/06/2009

Seorang pemuda menerobos sebuah pemandangan, melihat sebuah taman yang indah. Entah apa yang dia rasa saat ini. Hatinya meronta, menjerit kesakitan. Kebahagiannya runtuh, dicabik sang angkara murka. Air matanya menghiasi taman-taman langit, sehingga menjulangkan sebuah tanda tanya. Apa yang terjadi padanya???

Dia berharap, di sana akan ada hati yang dapat disirami dengan dahaga kerinduan sang Rembulan…

“ahh…” selalu… selalu, setiap beberapa hela menit dia menghelakan nafasnya.

Dia mungkin merasa bodoh, angannya begitu tinggi. Angan tentangnya… Ah, angan itu hanya sia-sia belaka. Yah…. angan sememangnya… memiliki banyak sisi kelemahan. Angan tidak pernah sempurna. Manusia yang tak pernah luput dari dosa, makhluk yang hanya mampu bersandar pada Sang Pencipta. Dia merasa terkutuk, seketika dia mengerutkan keningnya.

“kenapa nasib aku begini?” selalu… pertanyaan itu yang ada dalam benaknya

Tak henti bertanya pada dirinya sendiri, fikirannya begitu kalut. Sejenak dia menghentikan titisan air matanya yang tak terbendung lagi untuk tak jatuh di taman mimpi. Keramaian kota membuatkan dia mampu menahannya seketika. Lalu lalangnya manusia-manusia di hadapannya, membuat dia kelu untuk menampilkan beberapa cercah kesyahduan duka hdiupnya. Sungguh dramatis.

Sepoi-sepoi angin di taman langit itu, membawa dia bersemayam dalam mimpinya. Kadang matanya terpejam sambil mengerutkan dahinya, kadang pula ia buka dengan pandangan yang sayu…. Tapi TAJAM.

“ahh… cinta, kasih sayang, belahan jiwa dan belahan hatiku”, gumamnya. Tak jauh, ya kebodohan itulah yang membuat dia semakin terpuruk.

Cintanya hilang, sang bunga berkhianat, dia telah pergi… cintanya musnah. Sungguh tak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Setelah sang bunga pergi, kehidupanya liar. Ubat-ubatan haram menjadi santapannya setiap hari. Bersenggama dan bersetubuh dengan wanita yang tidak halal, dijadikan kegiatan rutin setiap hari demi untuk melupakan itu semua. Ternyata itu alasan konyol manusia bodoh. Menyamai si bangsat, sama bajingannya dengan si bangsat.

“Ahhhh……”, teriaknya.

Sejenak dia berfikir, air matanya mulai mengalir, dan tak dapat dibendung. Tak dihiraukan pula manusia-manusia yang sibuk dengan karenah sendiri yang sedang berlalu lalang dihadapannya. Dia mulai teresak dalam tangisan, dan sekali-sekala cuba untuk mengadu. Mengadu pada siapa??? Rintihannya tiada siapa yang mendengarkan. Kebahagian adalah hal mustahil baginya.

Perjalanannya semalam membuatnya membuka tabir cahaya. Indah…..sungguh indah. Dia menemeui sosok teman lama, yang memang kebetulan saat itu terserempak. Bagaikan dahaga seorang musafir di padang Pasir.

“Burhan…?”

“Aiman…?”

Pemuda yang dipanggil Aiman itu terbeliak sedikit matanya, mungkin dia hairan, melihat teman lamanya bertubuh kurus, bermata sayup. Bau alkohol di tubuhnya membuatkan pemuda yang bernama Aiman itu menampakkan tidak selesa. Paling tidak, berasa sedikit mual.

Dia sedar hal itu.

Dia mulai menjauhkan dirinya dari tubuh Aiman. Ah… dia merasa bodoh sekali, dia merasa tidak layak mendekati pemuda soleh itu.

Tapi apa yang dilakukan Aiman?

Dia memeluknya, erat… sungguh erat. Pelukan yang sangat dia rindukan. Hatinya luluh akibat pelukan itu. Dia seolah-olah merasakan sedikit kedamaian di tengah-tengah rusuhan pasukan jagat yang sedang berperang.

Ketenangan itu… sangat, sangat bermakna baginya…

“Aiman…apakah engkau tahu… betapa aku sangat merindukanmu” ucapannya begitu menyentuh.

“Burhan, selama ini kamu ke mana? Selama dua tahun belakangan ini, aku dan teman-teman yang lain mencarimu. Semenjak kamu pergi tanpa khabar” tutur Aiman.

“Aku berada di setiap lorong-lorong malam nan senja, yang bertaburkan kemaksiatan, dan berbuahkan dosa-dosa besar wahai sahabatku”, tukasnya.

Tanpa disedari, Aiman menitiskan airmatanya. Airmata itu mengalir dengan esakan yang menggamit. Wajahnya terlihat berpeluh. Cintanya begitu memancarkan getaran dan kegundahan di hatinya. Ya Rabb…betapa tergoncangnya Aiman melihat sesosok pemuda di depannya yang sedang membongkok kerana kesakitan.

“Burhan, apa yang terjadi?”

“Ah, tidak ada apa-apa…. Percayalah”

“Burhan, pliz jangan bohong. Apa yang terjadi sebenarnya?’ Aiman teresak menangis, dirinya bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

“Man, jika aku mati, adakah kamu akan menjenguk mayatku?” Pertanyaannya membuat manusia di depannya tersentak.

“Burhan, apa yang kau merepek ni. Jom, aku temankan ke hospital!” Ajak Aiman sambil mendakap tubuhnya yang begitu lemah, sehingga tulang-tulangnya pun dirasakan oleh Aiman ketika menuntun tubuh itu untuk memapah langkah demi langkah.

“Aiman, adakah kesempatan untuk aku memohon ampun kepada pemilik jasad ini?” pertanyaan aneh mula keluar dari bibir tipisnya yang berkedut dan mengering.

“Han, Allah itu tidak buta, dan tidak pernah menyia-nyiakan makhluknya.”

“Allah itu juga maha pengasih, juga maha Pengampun kan Man?

Ah, janganlah bertanyakan hal-hal yang sudah kamu ketahuinya sahabatku. Kamu yakin akan hal itu kan Han?

Iya…

“Sudahlah Han, jangan bercakap yang pelik-pelik ni. Kamu perlu rehat” Aiman masih memapah tubuh kurus itu, sambil menapaki langkah-langkah kecil.

“Bawa aku ke taman langit di seberang sana ye Man!” Pintanya sambil menatap Aiman, tanda merayu agar temannya itu mahu untuk membawanya ke tempat yang ia tunjukkan. Pancaran mata itu membuat hati Aiman luluh tanda rela.

“Baiklah, sekejap je tau, nanti kita terus ke hospital” Aiman membalas dengan senyuman yang dapat menyenangkan sahabatnya itu..

Petang itu, seakan menjadi sebuah hari yang bisu. Tepatnya… Hari yang bernama “Hari Bisu”, dimana semua orang menjadi terdiam kerana keangkuhan dunia. Menjadi bisu kerana kejamnya dunia fatamorgana. Dia terpukau, matanya masih mencari-cari sesosok senja yang dapat menghantarkannya kepada kenikmatan hakiki. Matanya tertutup setelah melihat senja itu tiba.

Teriakan- teriakan berselerak di telinganya, tangisan bergemuruh sejajar dengan ombak yang berkejar-kejaran di laut hampas. Matanya telah tertutup. Ternyata angannya masih melanglang buana. Dia melanglang buana dengan masa lalunya…

One Response to “Menapaki Mimpi Di Taman Langit”

  1. dania said

    tulisan yg bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: