Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Jangan Menyiakan Waktu Orang Lain

Posted by thinker on 20/07/2009

waktu“Nanti hari Ahad kita jumpa di sekolah jam 9 pagi.” Itulah kesepakatan yang dibuat di dalam mesyuarat pada petang Khamis itu. Isi mesyuarat memang panjang. Tetapi, kuncinya adalah perjumpaan itu, atau tepatnya gotong-royong yang telah disepakati itu bermula jam 9 pada pagi Ahad. Full Stop!

Perasaan kesal sekali lagi menyelubungi jiwa ini. Seawal jam 8.50 pagi, saya sudah tiba bersama teman saya, yang juga merupakan guru. Tetapi, hasilnya sesudah menunggu melewati jam 9.15, tetap saja suasana sekolah sepi tiada ‘pengunjungnya’. “Dasar janji Melayu!” geram dilepaskan sebatas di hati. Motosikal dipacu meninggalkan sekolah menuju ke Pasar Muhibah. Tempat favourite kami berdua menjamah lontong lodeh.

Jam menunjukkan 9.45, kami bingkas untuk segera kembali ke sekolah. “Mungkin mereka sudah sampai”, bisik hati. Duit Rm10, dikembalikan sebanyak rm3. RM7 untuk 2 hidangan lontong lodeh dan 2 minuman panas. Makanan di sini memang murah dan berbaloi.

Rasa kenyang setelah makan tadi, sedikit menghilangkan rasa kekesalan saya, yang tadinya sangat menodai keadaan. Kami tiba semula di sekolah sekitar jam 9.55. Tekaan saya jauh meleset. Keadaan masih seperti asal. Tiada sesiapa, melainkan kami berdua. Kami menunggu sehingga jam 10.30, barulah ada 2 orang guru dari 7 orang guru lainnya.

***

Pengalaman sebegini bukanlah pertama kali yang saya rasakan. Bahkan berkali-kali sehingga tak terhitung. Urf sebegini sudah mendarah daging dalam tradisi masyarakat Melayu khususnya. Sehingga ada istilah “janji Melayu” yang sudah cukup menggambarkan apa maksudnya. Malah, di suatu majlis, sang moderator akan sering mengulang-ngulang tentang peri pentingnya menepati waktu bagi seseorang yang bergelar mukmin.

Kadang, saya sendiri terikut-ikut rentak urf yang negatif ini. Padahal saya termasuk orang yang menepati waktu. Saya tidak suka menunggu hal-hal yang tidak wajar untuk ditunggu. Jadi, saya juga tidak suka membuat orang tertunggu-tunggu.

Saya mempunyai teman yang sudah sangat mengenal dengan kerenah urf setempat yang menjanggalkan ini. Kalau dia ingin membuat janji dengan sesiapa (kebanyakan), dia akan mengundurkan waktunya sebanyak 30 minit. Misalnya, jika ingin membuat temu janji pada jam 3, maka dia akan memberi informasi pertemuan pada jam 2.30, kerana sudah tahu bahawa pertemuan itu bakal terlewat jika ditetapkan jam 3.

Tetapi, ada suatu yang membuat saya berfikir. Bagaimana jika dia membuat janji dengan orang yang sangat menepati waktu. Bahkan kehadirannya lebih awal dari jam pertemuan. Apakah pertanggungjawaban yang bakal dia berikan. Adakah sekadar menjelaskan alasan yang tidak masuk akal itu? Ah tidak! Sememangnya urf itu yang harus mengikut kehendak kita yang suci, yang mengikut garis panduan syariat. Bahawa Islam sangat menitikberatkan tentang tepatnya waktu dan menepati janji. Ingkar janji, bermaksud kita tergolong dalam golongan orang-orang munafik, Nau’dzubillah Min Syarri Dzalik.

Saya selalu datang tepat waktu? Tidak juga. Saya juga terkadang lambat. Saya tidak pernah menafikan. Apatah lagi jika menerima tugasan dari pihak atasan yang bertimbun di atas meja. Saya akan memberi alasan yang sewajarnya, agar diberi tempoh lanjutan untuk mempersiapkannya. Itu wajar. Terkadang juga, saya pernah memberi informasi ketidakhadiran saya kepada teman-teman saya pada lewat minit yang terakhir. Ia kerana alasan kecemasan yang tidak dapat saya elakkan. Misalnya alasan yang lebih aula seperti ada acara kekeluargaan yang memerlukan saya pada saat akhir juga. insyaAllah, mereka yang ‘terzalimi’ dengan penundaan waktu saya itu dapat memaklumi diri saya.

Teman,

Kebiasaan membuat orang lain menunggu tidaklah layak disuburkan. Bukankah mensia-siakan waktu orang lain sama dengan kita berbuat zalim kepadanya? Waktu berharga bagi kita, begitu juga bagi orang lain.

“Manfaatkanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: masa mudamu sebelum masa tuamu, sihatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, masa lapangmu sebelum sibuk, hidupmu sebelum mati.” (HR. Al-Hakim)

One Response to “Jangan Menyiakan Waktu Orang Lain”

  1. ana88 said

    salam akhi wa uztad ..

    kaifa haluk..

    bila baca tajuk ni,teringat yg ana pernah lambat dalam perjumpaan dengan akhi..

    kklau x silap 2 kali..

    ana x ingat klau ana ade minta maaf atau x,

    tolong maafkan ana ye…

    jazakallahu khoiran katsirah…

    barakallhufik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: