Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Wujudkah Couple Islami?

Posted by thinker on 30/07/2009

Salah seorang dai pernah ditanya, ”Agak-agak, dulu ustaz dengan ustazah, maksudnya sebelum menikah, apakah sempat bercouple?”

Dengan diplomatik, si dai menjawab,”Couple yang macam mana? Kami dulu juga bercouple, tapi bercouple secara Islami. Bagaimana caranya? Kami juga sering berjalan-jalan ke tempat rekreasi, tapi tak pernah berdua-duaan di tempat yang tersembunyi. Kami juga tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak ‘sepatutnya’, ciuman, pelukan, apalagi –Na’udzubillah- berzina.

Nuansa berfikir seperti itu, tampaknya bukan hanya milik si dai. Banyak kalangan kaum muslimin yang masih berpandangan, bahawa cuople itu dibolehkan, asalkan tetap menjaga diri masing-masing. Ungkapan itu ibarat kalimat, “Mandi boleh, asal jangan basah.” Ungkapan yang hakikatnya tidak pernah wujud. Kerana bercouple (pacaran, kata orang indon) itu sendiri, dalam makna apa pun yang difahami oleh masyarakat sekarang ini secara lazimnya, sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam. Kecuali kalau sekadar melakukan taaruf (melihat calon isteri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya). Jika itu dianggap sebagai couple, maka dibolehkan. Atau setidaknya, diistilahkan demikian. Namun itu sungguh merupakan tindakan pengaburan istilah. Istilah couple sudah terlajak difahami sebagai hubungan intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bergandingan, jalan-jalan makan angin, saling berkirim surat, ber SMS ria, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Justeru, tatkala muncul istilah couple yang Islami, sama halnya dengan memaksakan suatu kalimat di atas suatu istilah. Misalnya, meneguk minuman keras yang Islami. Mungkin, kerana minuman keras itu diteguk di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Semuanya dianggap ‘Islami’, tatkala ada tempelan ‘Islami’ pada susur kalimat atau aktivitinya. Kalaupun ada aktivitI tertentu yang halal, kemudian di label dengan nama-nama perbuatan haram tersebut, ia jelas sengaja ‘dipaksakan’, dan sama sekali tidak bermanfaat.

Meninjau Fenomena Couple

Jika kita tinjau fenomena couple pada saat ini, pasti wujud perbuatan-perbuatan yang dilarang di atas. Kita dapat melihat bahawa bercouple boleh mendekati zina. Ia diawali dengan pandangan mata terlebih dahulu. Lalu pandangan itu mengendap di hati. Kemudian timbul hasrat untuk jalan berdua. Lalu berani berdua-duaan di tempat yang sepi. Setelah itu bersentuhan dengan pasangan. Lalu dilanjutkan dengan ciuman. Akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina. –Naudzu billahi min syarri dzalik-. Lalu pintu mana lagi yang paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan yang melebihi pintu couple?! Benarlah satu ungkapan yang berbunyi “Dari mata turun ke hati”. Maksiat di antara lawan jenis sememangnya diawali dengan pandangan mata.

Mungkinkah ada couple atau pacaran Islami? Sungguh, couple yang dilakukan saat ini bahkan yang dilabel dengan ’pacaran Islami’ atau ‘couple Islami’ tidak mungkin dapat terhindar dari larangan-larangan di atas. Renungkanlah hal ini!

Pacaran Terbaik adalah Setelah Nikah

Islam yang sempurna telah mengatur hubungan manusia dengan lawan jenisnya dengan baik dan unik. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci iaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam Islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran/couple, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeza dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan, atau cinta Romeo-Juliet.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui penyelesaian untuk dua orang yang saling mencintai yang sama dengan pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Kerana itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah kerana puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merosak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, kerana bila keduanya telah merasakan kelazatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”

Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta pada-Nya. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

“Robbighfirlana waliwalidina warhamhuma kama robbayani sighoro, Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun wa jaalna lil muttaqina imama, Robbana atina fi dunya khasanah wal fi akhirotina khasanah wa qina adzabannar”

Couple Islami? Gombal!

Salah seorang dai pernah ditanya, ”Agak-agak, dulu ustaz dengan ustazah, maksudnya sebelum menikah, apakah sempat bercouple?”

Dengan diplomatik, si dai menjawab,”Couple yang macam? Kami dulu juga bercouple, tapi bercouple secara Islami. Bagaimana caranya? Kami juga sering berjalan-jalan ke tempat rekreasi, tapi tak pernah berdua-duaan di tempat yang tersembunyi. Kami juga tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak ‘sepatutnya’, ciuman, pelukan, apalagi –wal ‘iyyadzubillah- berzina.

Nuansa berfikir seperti itu, tampaknya bukan hanya milik si dai. Banyak kalangan kaum muslimin yang masih berpandangan, bahawa cuople itu dibolehkan, asalkan tetap menjaga diri masing-masing. Ungkapan itu ibarat kalimat, “Mandi boleh, asal jangan basah.” Ungkapan yang hakikatnya tidak pernah wujud. Kerana bercouple (pacaran, kata orang indon) itu sendiri, dalam makna apa pun yang difahami olhe masyarakat sekarang ini secara lazimnya, sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam. Kecuali kalau sekadar melakukan taaruf (melihat calon isteri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya). Jika itu dianggap sebagai couple, maka dibolehkan. Atau setidaknya, diistilahkan demikian. Namun itu sungguh merupakan tindakan pengaburan istilah. Istilah couple sudah terlajak difahami sebagai hubungan lebih intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bergandingan, jalan-jalan makan angin, saling berkirim surat, ber SMS ria, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Justeru, tatkala muncul istilah couple yang Islami, sama halnya dengan memaksakan suatu kalimat di atas suatu istilah. Misalnya, meneguk minuman keras yang Islami. Mungkin, kerana minuman keras itu di tengukk di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Semuanya dianggap ‘Islami’, tatkala ada tempelan ‘Islami’ pada susur kalimat atau aktivitinya. Kalaupun ada aktivitI tertentu yang halal, kemudian di label dengan nama-nama perbuatan haram tersebut, ia jelas sengaja ‘dipaksakan’, dan sama sekali tidak bermanfaat.

Meninjau Fenomena Couple

Jika kita tinjau fenomena couple pada saat ini, pasti wujud perbuatan-perbuatan yang dilarang di atas. Kita dapat melihat bahawa bercouple boleh mendekati zina. Ia diawali dengan pandangan mata terlebih dahulu. Lalu pandangan itu mengendap di hati. Kemudian timbul hasrat untuk jalan berdua. Lalu berani berdua-duaan di tempat yang sepi. Setelah itu bersentuhan dengan pasangan. Lalu dilanjutkan dengan ciuman. Akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina. –Naudzu billahi min syarri dzalik-. Lalu pintu mana lagi yang paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan yang melebihi pintu couple?! Benarlah satu ungkapan yang berbunyi “Dari mata turun ke hati”. Maksiat di antara lawan jenis sememangnya diawali dengan pandangan mata.

Mungkinkah ada couple atau pacaran Islami? Sungguh, couple yang dilakukan saat ini bahkan yang dilabel dengan ’pacaran Islami’ atau ‘couple Islami’ tidak mungkin dapat terhindar dari larangan-larangan di atas. Renungkanlah hal ini!

Pacaran Terbaik adalah Setelah Nikah

Islam yang sempurna telah mengatur hubungan manusia dengan lawan jenisnya dengan baik dan unik. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci iaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam Islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran/couple, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeza dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan, atau cinta Romeo-Juliet.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui penyelesaian untuk dua orang yang saling mencintai yang sama dengan pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Kerana itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah kerana puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merosak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, kerana bila keduanya telah merasakan kelazatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”

Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta pada-Nya. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Allahumma inna nas’aluka ’ilman nafi’a wa rizqon thoyyiban wa ’amalan mutaqobbbalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: