Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Semua ada awalnya…

Posted by thinker on 04/08/2009

Di pinggir jalan…

Wanita muda lingkungan remaja itu tampak serius bekerja. Menyusun dan mengangkat produk jualannya yang pelbagai. Dibolak balik agar kepanasan minyak di dalam kuali itu merata pada setiap inci makanan yang diniagakan itu. Ada pisang, kentang, keledek dan ubi yang juga beraneka. Bukan setakat itu, disediakan juga bumbu kicap bagi yang suka dengan perencah. Aroma kerangupannya sungguh menggugah imaginasi para peminat setia yang lazimnya membeli di situ. Silakan memilih yang mana anda suka.

Saya kurang tahu tempat tinggal peniaga wanita ini di mana. Belum sempat menyapa dan tahu asal usulnya. Dan memang bukan urusan saya untuk mengetahuinya. Apa yang saya tahu, dia baru meniaga di sini beberapa bulan setelah peniaga sebelumnya sudah tidak lagi berniaga.

Apa yang menarik dari pemandangan itu???

Mungkin ia sesuatu yang biasa bagi kita. Tapi mari kita selami lebih dalam lagi tentang fenomena itu. Barangkali, ada keping-keping hikmah yang tersisa. Keping-keping yang dapat kita petik sebagai renungan tentang kehidupan yang kita jalani selama ini.

Di setiap tempat, apa yang kita lihat, semuanya ternyata boleh menjadi bahan renungan bagi kita. Asalkan kita memandangnya dengan cara yang ‘berbeza’. Menelaah dengan lebih dalam atas apa yang kita lihat itu. Memang melihatnya tak sekadar dengan dua mata kita, tetapi perlu dengan mata jiwa, mata hati. Dengan begitu, kita pun akan dapat meresapi sampai ke hati.

Belajar memulai…

Izinkan saya bertanya. Apakah yang dapat menjamin seseorang itu memang mempunyai cita-cita sebagai seorang penjual kuih gorengan? Saya sendiri tidak yakin. Saya cenderung memandang apa yang dilakukannya sebagai bahagian dari proses. Mungkin fulanah mempunyai cita-cita yang lebih dalam berniaga. Hanya saja, sebagai langkah awal, ia perlu berniaga kecil-kecilan. Atau… mungkin juga kerana keterhadan peluang yang ada, maka pekerjaan itulah yang dapat dilakukannya. Boleh jadi kemungkinannya begitu. Saya cuba menerka.

OK lah, anggap saja apa yang dilakukannya kini itu, sedang kita alami. Ambil contoh tentang diri kita. Mungkin pada saat ini, pekerjaan kita itu belum sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tentu, langkah terindah yang dapat dilakukan adalah dengan mencintai pekerjaan kita saat ini. Anggaplah ini sebagai langkah awal kita untuk meniti karier yang lebih baik di kemudian hari. Ia merupakan sebuah bahagian dari proses untuk mencapai cita-cita dan impian kita di kemudian hari.

Sudah teramat banyak cerita orang-orang yang meniti karier dari awal. Seperti orang yang pada awalnya adalah seorang penjual kasut di pasar, kemudian menjadi “raja bsines’ di kota. Ya, semua itu ada awalnya. Kata pepatah cinta, ribuan batu dan kilometer dimulai dari satu langkah. Persoalannya sekarang, apakah langkah kaki kita telah terayun meniti jambatan proses itu? Ataukah kita masih saja terbayang-bayang dalam erti berangan-angan doang? Harapan hanya bermodalkan nikmatnya impian dengan angan-angan dan senyuman bayangan. Sadis!

Hari ini, usahakanlah untuk beranjak berjalan meniti langkah awal. Selangkah demi selangkah. Bagi yang sudah beranjak jauh, perlu sejenak melihat dan menilai sepintas lalu. Tepatnya, jangan melulu untuk mengiktiraf diri sebagai orang yang telah sukses. Tapi berusaha untuk menjadi manusia yang berharga, manusia yang mempunyai kemanfaatan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi bagi orang lain juga. Begitulah yang seharusnya.

Bagi seorang muslim, tentu saja kita mempunyai cita-cita yang tersendiri dan unik dari yang lain. Kita mempunyai sejumlah cita-cita dan ambisi yang lebih besar dari orang yang hanya sekadar melihat kenikmatan dunia ini sahaja. Tentu kita faham di mana keberadaan manusia di muka bumi ini hanyalah bersifat sementara dan ia sebagai bekal untuk kita meraih tuntutan akhirat. Kalau hanya mengejar sukses peribadi, tentu kurang afdhol. Kita dipinta oleh syariat agar menjadi mukmin yang senantiasa menjalani kehidupan dengan menegakkan kalimah Allah dengan semaksimal mungkin. Misalnya, jika kita ingin meraih kemuliaan hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyah, yang dengan hidup di dalamnya kita akan merasa tenteram dan merasa keadilannya yang merata. Apakah ia sudah teraih? Atau setidaknya kita telah menempuh jalan awal untuk menujunya? Ataukah kita menjadi orang yang hanya menjadi pemerhati sahaja, tanpa berbuat apa-apa. Fikirkan!

Khusus bagi yang sedang melangkahkan sejengkal demi sejengkal kaki meraih capaian puncak, ada baiknya kita ingat pesan Rasulullah Muhammad SAW “Berharaplah dengan kebaikan, pasti kalian akan mendapatkannya”.

Ya, inilah awalan bagi kita untuk menggapai puncak yang baik, halal, diredhai Allah SWT, dan tentunya setelahnya tak hanya kita yang menikmatinya. Tetapi kebahagiaan itu juga dapat dinikmati sesama manusia yang lain. Semoga, kita dapat melakukannya.

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: