Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

Dwilogi Novel Munajat Cinta – Novel Sufi ala Filosofi

Posted by thinker on 24/12/2009

alt

“Sudahkah engkau temukan dirimu, Ayda?”

“Sudah, Ayah. Insya Allah….”

“Jadi, siapa dirimu?”

“Saya bukan siapa-siapa….”

“Alhamdulillah, kalau begitu. Lalu, apa yang engkau lihat sekarang?”

“Saya melihat kebenaran firman-Nya bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya. Sayang sekali, keindahan ini sering kali dibuat buruk oleh manusia itu sendiri….”

“Terpujilah Allah kita, Nak. Semoga Dia mengaruniai ketabahan dan kesabaran pada kita. Sudah siapkah engkau jika sewaktu-waktu Allah memanggil ayahmu ini?”

“Cepat atau lambat, saya pun akan menghadap-Nya, Ayah….”

***

Itulah petikan dialog terakhir di antara Ruwayda dan ayahnya. Ruwayda, seorang gadis yang dianugerahi dengan kecerdasan istimewa, lahir dalam keluarga kaya, tiba-tiba terpaksa berhadapan dengan kenyataan pahit yang menimpa keluarganya. Ayahnya bankrap! Cita-citanya untuk menjadi mahasiswi terkandas. Hampir setiap hari kedua orang tuanya terlibat pertengkaran kerana masalah hutang dan kesempitan. Jiwa Ruwayda merana dan tergoncang. Masalah harta dan kemuflisan menyebabkan keharmonisan cinta antara ayah dan ibunya semakin retak.

Di atas tanah pekuburan Paponan di daerah Parakan, Ruwayda mengalami masalah kejiwaan yang amat kritikal! Antara menjadi pelacur agar dapat memperoleh wang kilat atau mengakhiri hidup yang penuh sengsara ini. Ia kehilangan pesona imannya sebagai muslimah gara-gara belenggu wang, cinta, harga diri, dan kebahagiaan. Semua perasaan itu berkecamuk menjadi peluru torpedo yang tinggal menunggu waktu untuk dilepaskan. Lalu ia memilih bunuh diri! Reason yang bodoh bagi orang yang sepintar Ruwayda. Namun, takdir memihak dirinya. Ia didatangi oleh sang ustaz yang mengajarnya. Ia tersedar, hatinya yang bening terbuka untuk menerima cahaya iman yang redup di dalam pelupuk hatinya.

Setelah itu, ia pergi bermusafir untuk mencari sebuah jawapan dalam hidupnya. Mencari makna dan teki-teki kehidupan bagi dirinya.

***
Komen Peribadi,
Ketika pertama kali saya membaca novel ini, saya merasakan buku ini terlalu berfalsafah dan sukar difahami makna di sebalik kalimat yang disajikannya. Motifnya apa? Saya juga tidak tahu. Hanya penulisnya sahaja yang mampu mengertikan kalimat filosofi tersebut.

Jalan ceritanya tidakla khayali, tetapi tidak mustahil berlaku pada kehidupan manusia yang normal seperti kita. Cuma alur dan jalan ceritanya sahaja bagi saya kurang memberi bekas bagi pembaca tentang apa yang hendak disampaikan oleh sang penulis. Makna hidup? Jujur, saya tidak menemukan apa-apa makna dalam novel ini. Cuma sekadar mengenal betapa dalam hidup ini sememangnya penuh onak dan duri.

***

Adat sebuah novel yang berstatus ”Dwilogi”, ”Trilogi” atau ”Fologi” (ada ke istilah ni), pasti sang penulis telah mengunci di dalam novel pertamanya dengan sebuah teka-teki yang memerlukan jawapan di dalam novel seterusnya. Sama seperti status novel-novel yang lain seperti novel Ketika Cinta Bertasbih (Habiburrahman), Zikir-zikir Cinta (Hadi S. Khuly), Lakar Pelangi (Andrea Hirata) dan novel-novel bersiri lainnya seperti Harry Potter. Sehingga jika pembaca tidak menemukan jawapan dari novel sebelumnya, maka ia seperti sebuah karya yang GAGAL dan mengecewakan para pembaca. Dahsyah bukan?

Akhirnya, 2 minggu yang lalu saya menemukan novel ”Munajat Cinta 2” di Popular. Tapi, saya tangguhkan pembelian itu untuk saya beli di kedai Pustaka Favorit (istilah Indo bagi favourite) saya di Jalan Masjid India. Dapat diskon dhong, hehe. Saya lebih memilih versi yang asal, iaitu yang berbahasa Indonesia berbanding yang sudah ditejemah, kerana pembawaannya berbeza, dan akan memicu kepada pemahaman yang mendalam.

alt

Munajat Cinta 2,

Apa yang saya fikir, jauh meleset. Bukan bermaksud merendah-rendahkan sang penulis. Jauh sekali dari maksud penulisan ini. Saya cuma ingin mengungkap Fakta berdasarkan penelitian saya. Pembawaan cerita di dalam novel ini, bagi saya terlalu biasa-biasa saja. Tidak ada yang di luar kebiasaan, dan jalan ceritanya mudah diterka oleh sesiapa. Tidak ada elemen suspend atau apa saja yang namanya RAHASIA. Semuanya diungkapkan dengan alur yang stagnan.

Tidak seperti novel yang pertama, episod kedua ini tidaklah terlalu berfilosofi. Ia lebih kepada penghabisan dan penerusan dari novel yang pertama. Novel religius ini menuturkan dengan sangat kuat pergulatan jati diri penuh liku seorang gadis mencari kesejatian hidup, cinta, dan imannya. Sebuah novel yang penuh intrik, kemelut, tegangan, getaran, kasih sayang, sekaligus air mata…. silakan baca kepada sesiapa yang suka dengan genre yang sedemikian. Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: