Lautan Pemikiran

Berfikir Jalan Keimanan

“Aku Tidak Bisa Ditegur”

Posted by thinker on 28/12/2009

Pantaskah sikap demikian itu, bagi seorang bakal ketua organisasi yang akan memikul amanah kelak? Aku jadi pening memikirkannya! Berilah ide dan saran kepadaku wahai sahabat…

Suasana di antara Amran dan Khairul, dua sahabat itu hening seketika. Tidak seperti perjumpaan yang biasanya diselingi dengan canda dan tawa. Tapi, pertemuan pada senja kala itu, melakar frasanya tersendiri yang tidak seperti kebiasaannya.

Khairul hanya diam, tidak berkata apa-apa, kerana dia berasakan belum sampai waktunya. Pandangannya tidaklah tajam, tapi cukup menunjukkan bahawa dia sedang serius mendengar curhat sahabatnya itu.

Apakah tindakan aku benar Khairul? Pandangan Amran tajam, dahinya berkedut, alisnya memicu urat yang tegang.

Apakah kamu punya alasan untuk hal ini Am?

Alasan…?

Iya, alasan. Semua tindakan di dunia ini, kebanyakannya punya alasan tersendiri. Bahkan, Allah SWT menciptakan manusia dengan ’alasan’.

Boleh kau jelaskan Rul?

Amran semakin penasaran mendengar jawapan simple sahabatnya itu.

Iya, lihat saja dalam surah Adz-Zariyat ayat 56 yang maksudnya:

”Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu.”

…. agar kita menyembah Am! Itulah makna di sebalik penciptaan kita di dunia ini.

Bagaimana pula denganmu Am? Kamu punya alasan? Agar tindakanmu itu juga menjadi sebahagian dari pengabdian diri kepada Allah. Dan dengan alasanmu itu, akan menyelamatkan kamu kelak di yaumul qiyamah!

Hmmm…..

Kuharap kamu bukan berfikir untuk mencipta alasan itu Am. Kuharap alasan itu sudah ada. Alasan bukan untuk diada-adakan. Kerna setiap tindakan itu, sebelumnya sudah seharusnya punya alasan. Seorang Tukang masak memasak, tidak akan semena-mena memasak tanpa adanya alasan. Bisa saja alasannya untuk dirinya sendiri masakan itu, atau untuk keluarganya… atau bisa saja ia memasak kerna itu menjadi profesinya agar ia mendapat gaji daripada aqad ijarahnya. Benar bukan?

Sebenarnya aku bingung Rul. Aku punya alasan, tapi aku masih tidak yakin dengan tindakanku ini. Apakah aku hanya diam saja, atau aku harus mengikut saran yang lain, iaitu melakukan bantahan di atas pemilihan ketua organisasi yang telah dilaksanakan itu. Aku butuh pandangan orang lain yang lebih tahu, dan tidak dipengaruhi oleh ini semua. Dan aku rasakan orang itu adalah kau Rul. Kau sahabatku yang terdekat dan memahami diriku.

Kamu lucu Am. Kadang aku kurang mengerti dengan dirimu. Kau seorang yang berpendidikan tinggi. Malah dari sudut kapasiti pelajaran dan kemampuan, kau jauh lebih pintar daripada diriku. Bahkan, di sisi lain kau banyak memberi saran dan buah fikiran kepada orang lain. Tetapi kau gagal untuk memberi saran kepada dirimu sendiri. Sobat… oh sobat… kamu memang aneh sekali… atau aku aja yang beranggapan begitu. Ceritakanlah padaku… ada apa sebenarnya.

Khairul seakan tahu permasalahan sahabatnya itu, ia cuba meredupkan emosi sahabatnya yang sedang lagi berkecamuk. Kini, dia cuba untuk menjadi pendengar yang baik.

Mata Amran tertutup, seakan berfikir, mungkin cuba menata kalimat agar kata-katanya dapat difahami oleh temannya itu. Kebiasaannya… kata-kata Amran kurang tersusun, dan sukar difahami oleh Khairul ketika berbicara. Mungkinkah…

Rul, apakah kau bisa menerima seorang ketuamu dalam apa jua organisasi, yang pada awalnya sudah mengatakan, ”Aku tidak bisa ditegur!”? apakah kau bisa Rul? Bisa menerimanya sebagai seseorang yang akan menjadi kepala dalam segala aktivitas organisasimu? Apakah kamu bisa Rul?

Tidak!

Jadi…?

Nggak ada apa yang jadi.

Ah, kamu bisa aja bercanda saat tegang seperti ini. Serius dikit dhong!

Aku serius banyak Am. Aku mengerti apa yang kau rasakan. Jujur saja, kalimat itu sendiri adalah salah. Tidak benar, malah tidak Syar’e.

Tidak Syar’e? Maksudmu?

Bukankah kata-kata itu menunjukkan sikap arogan seorang manusia, yang merasa kudus tidak akan pernah melakukan kesalahan, tidak layak ditegur dengan menafikan perintah amar ma’ruf wa nahi munkar??? Bahkan seorang Khalifah sendiri layak kita tegur dan dimuhasabah ketika terjadinya penyimpangan! Atau… apakah pemahamanmu berbeda dengan diriku? Kitabmu berbeda dengan diriku? Syarahmu berbeda dengan syarahku?

Ah, kau bisa aja… tidak ada yang lain Rul. Semua yang aku pelajari, sama dengan apa yang kau pelajari.

Bererti kamu mengerti dhong apa yang aku ingin sampaikan. Masih bingung?

Masih!

Aduh….!

Engkau mengeluh  Rul?

Sedikit!

Maafkan aku.

Tidak mengapa. Amran, kepimpinan itu amanah. Melalaikan amanah adalah khianat. Dan… orang munafiq sajalah yang melakukan hal itu. Maaf, kalau aku berlebihan, tapi itulah hakikatnya.

Jadi Rul… aku harus bagaimana??? Matanya redup, kuyu dan sayu… walau lampu kalimantang di dalam ruangan itu bersinar terang menyinari dua makhluk di bawahnya… tapi belum mampu untuk menutup fakta alam.

Mantapkan dirimu Am. Pilihlah jalanmu sendiri. Kuatkanlah prinsipmu. Jangan seperti lalang yang hanya berdansa meliut kerna angin. Jangan pula seperti ombak, yang hanya mengikut pasang surutnya lautan. Kita manusia Am. Seharusnya punya prinsip sendiri. Dan… prinsip yang teragung adalah dengan mengikut standar syariah! Ukurlah perbuatanmu itu dengan kebenaran hakiki. Jika benar kata syariat, maka lakukanlah. Jika sebaliknya, maka berundurlah… dan itu adalah sebaik-baik pilihan bagimu.

Tapi.. aku masih baru dalam organisasi ini Rul. Apakah aku pantas? Aku khawatir ada yang menyepelekan diriku, meremehkan pribadiku… dan mengatakan bahwa aku mengada-ada… padahal aku orang baru, anak baru… dan mengajiku juga masih baru.

Am, Am… Am! STOP. Aku risih dengan kata-katamu itu. Apakah kau tidak merasa BODOH dengan alasan konyol itu? Tidakkah kau sedar dengan kata-katamu itu, membuktikan kebenaran kata-kata seorang Ulama’ di dalam kitabnya yang mengatakan bahwa… salah satu sebab kegagalan sebuah organisasi adalah kerna wujudnya kasta-kasta, tingkat-tingkat dan bias standar di antara ahli dengan ahli lainnya. Dan jika hal itu berlaku… maka ia BAHAYA bagimu, juga bagi oraganisasimu.

Khairul semakin tajam dengan kata-katanya… ia menampan kalimat sahabatnya itu dengan maksud tidak setuju.

Tapi Rul, itulah yang berlaku. Iklim itu sudah berlaku terlalu lama, sehinggakan ramai yang merasakan sepertiku, tapi takut untuk menegur dan memuhasabah… kerna…

Amran… terhenti dari kata-katanya. Detik seakan bergeming, jam seolah-olah sedang berehat… Amran masih terpaku tidak meneruskan kata-katanya.

Kerna apa? Takut dimarahi! Jika dimarahi… apakah kau mudharat? Tersiksa? Atau… kau hanya khawatir pandangan manusia… tapi tidak khawatir pandangan Tuhan kita? Berhentilah daripada merendah-rendahkan dirimu, kerna itu mengaibkan dirimu sendiri dan orang lain yang sepertimu itu. Mulakanlah langkahmu. Tekadkan maksudmu. Bulatkan niatmu. Ingatlah Am, bahwa Allah tidak pernah tidur. Malaikat kiri kananmu tidak pernah leka. Kemenangan pasti berpihak kepada kebenaran Am. Itulah yang telah terukir dalam sejarah umat manusia. Tidak ada kamus yang mengatakan sebaliknya… dan itulah yang seharusnya kau fahami!

Iya, iya… kau benar Rul. Aku baru sadar hal itu. Sesungguhnya aku pelajari dan menyampaikan isi kata-katamu itu di dalam kelas-kelasku. Tapi… tidak semudah itu untuk melakukannya dan melaksanakannya. Kau sederhana Rul, tapi ilmumu seolah-olah menggunung daripada diriku. Aku salut padamu.

Jangan kau memuji. Kerna ia ibarat pedang yang bakal menusuk tubuhku.

Sungguh… kebenaran itu memang benar dari Allah SWT… namun ia lewat hamba-hambanya yang soleh. Dan kini… kutemui kebenaran itu lewat dirimu Rul. Kini… kutahu, apa yang perlu aku lakukan sekarang.

Apakah kau sudah mantap?

Mantap insyaAllah!

Benar ni… kok suaranya masih lirih, sepertinya kurang mantap.

Ya iya laaa… kok nggak yakin denganku setelah kau pancing emosiku.

Ah… kapan aku pancing emosimu… kau saja yang terpancing… padahal pancingku bukan buatmu… tetapi buat orang lain yang istimewa buatku… gitu deh….

Haha… ada-ada aja kau ini….

Malam itu, Amran mendapat jawapan. Gerimis yang turun di balik jendela… seakan kencana rahmat untuk makhluk yang sedang memuji kebesaran tuhannya.

”Aku tidak bisa ditegur…”, Kalimat itu pasti tersingkap dengan pendirian Amran yang tersingkap bulat. Niatnya kukuh dan rapi. Langkahnya demikian tegar kini, tanpa adanya was-was dari syaitan yang membisik di hati dan fikirannya.

“Jangan Tegur Diriku”

Pantaskah sikap demikian itu, bagi seorang bakal ketua organisasi yang akan memikul amanah kelak? Aku jadi pening memikirkannya! Berilah ide dan saran kepada wahai sahabatku…

Suasana di antara Amran dan Khairul, dua sahabat itu hening seketika. Tidak seperti perjumpaaan yang biasanya diselingi dengan canda dan tawa. Tapi, pertemuan pada senja kala itu, melakar frasanya tersendiri yang tidak seperti kebiasaannya.

Khairul hanya diam, tidak berkata apa-apa, kerana dia berasakan belum sampai waktunya. Pandangannya tidaklah tajam, tapi cukup menunjukkan bahawa dia sedang serius mendengar curhat sahabatnya itu.

Apakah tindakan aku benar Khairul? Pandangan Amran tajam, dahinya berkedut, alisnya memicu urat yang tegang.

Apakah kamu punya alasan untuk hal ini Am?

Alasan…?

Iya, alasan. Semua tindakan di dunia ini, kebanyakannya punya alasan tersendiri. Bahkan, Allah SWT menciptakan manusia dengan ’alasan’.

Boleh kau jelaskan Rul?

Amran semakin penasaran mendengar jawapan simple sahabatnya itu.

Iya, lihat saja dalam surah Adz-Zariyat ayat 56 yang maksudnya:

”Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu.”

…. agar kita menyembah Am! Itulah makna di sebalik penciptaan kita di dunia ini.

Bagaimana pula denganmu Am? Kamu punya alasan? Agar tindakanmu itu juga menjadi sebahagian dari pengabdian diri kepada Allah. Dan dengan alasanmu itu, akan menyelamatkan kamu kelak di yaumul qiyamah!

Hmmm…..

Kuharap kamu bukan berfikir untuk mencipta alasan itu Am. Kuharap alasan itu sudah ada. Alasan bukan untuk diada-adakan. Kerna setiap tindakan itu, sebelumnya sudah seharusnya punya alasan. Seorang Tukang masak memasak, tidak akan semena-mena memasak tanpa adanya alasan. Bisa saja alasannya untuk dirinya sendiri masakan itu, atau untuk keluarganya… atau bisa saja ia memasak kerna itu menjadi profesinya agar ia mendapat gaji daripada aqad ijarahnya. Benar bukan?

Sebenarnya aku bingung Rul. Aku punya alasan, tapi aku masih tidak yakin dengan tindakanku ini. Apakah aku hanya diam saja, atau aku harus mengikut saran yang lain, iaitu melakukan bantahan di atas pemilihan ketua organisasi yang telah dilaksanakan itu. Aku butuh pandangan orang lain yang lebih tahu, dan tidak dipengaruhi oleh ini semua. Dan aku rasakan orang itu adalah kau Rul. Kau sahabatku yang terdekat dan memahami diriku.

Kamu lucu Am. Kadang aku kurang mengerti dengan dirimu. Kau seorang yang berpendidikan tinggi. Malah dari sudut kapasiti pelajaran dan kemampuan, kau jauh lebih pintar daripada diriku. Bahkan, di sisi lain kau banyak memberi saran dan buah fikiran kepada orang lain. Tetapi kau gagal untuk memberi saran kepada dirimu sendiri. Sobat… oh sobat… kamu memang aneh sekali… atau aku aja yang beranggapan begitu. Ceritakanlah padaku… ada apa sebenarnya.

Khairul seakan tahu permasalahan sahabatnya itu, ia cuba meredupkan emosi sahabatnya yang sedang lagi berkecamuk. Kini, dia cuba untuk menjadi pendengar yang baik.

Mata Amran tertutup, seakan berfikir, mungkin cuba menata kalimat agar kata-katanya dapat difahami oleh temannya itu. Kebiasaannya… kata-kata Amran kurang tersusun, dan sukar difahami oleh Khairul ketika berbicara. Mungkinkah…

Rul, apakah kau bisa menerima seorang ketuamu dalam apa jua organisasi, yang pada awalnya sudah mengatakan, ”Aku tidak bisa ditegur!”? apakah kau bisa Rul? Bisa menerimanya sebagai seseorang yang akan menjadi kepala dalam segala aktivitas organisasimu? Apakah kamu bisa Rul?

Tidak!

Jadi…?

Nggak ada apa yang jadi.

Ah, kamu bisa aja bercanda saat tegang seperti ini. Serius dikit dhong!

Aku serius banyak Am. Aku mengerti apa yang kau rasakan. Jujur saja, kalimat itu sendiri adalah salah. Tidak benar, malah tidak Syar’e.

Tidak Syar’e? Maksudmu?

Bukankah kata-kata itu menunjukkan sikap arogan seorang manusia, yang merasa kudus tidak akan pernah melakukan kesalahan, tidak layak ditegur dengan menafikan perintah amar ma’ruf wa nahi munkar??? Bahkan seorang Khalifah sendiri layak kita tegur dan dimuhasabah ketika terjadinya penyimpangan! Atau… apakah pemahamanmu berbeda dengan diriku? Kitabmu berbeda dengan diriku? Syarahmu berbeda dengan syarahku?

Ah, kau bisa aja… tidak ada yang lain Rul. Semua yang aku pelajari, sama dengan apa yang kau pelajari.

Bererti kamu mengerti dhong apa yang aku ingin sampaikan. Masih bingung?

Masih!

Aduh….!

Engkau mengeluh  Rul?

Sedikit!

Maafkan aku.

Tidak mengapa. Amran, kepimpinan itu amanah. Melalaikan amanah adalah khianat. Dan… orang munafiq sajalah yang melakukan hal itu. Maaf, kalau aku berlebihan, tapi itulah hakikatnya.

Jadi Rul… aku harus bagaimana??? Matanya redup, kuyu dan sayu… walau lampu kalimtang di dalam ruangan itu bersinar terang menyinari dua makhluk di bawahnya… tapi belum mampu untuk menutup fakta alam.

Mantapkan dirimu Am. Pilihlah jalanmu sendiri. Kuatkanlah prinsipmu. Jangan seperti lalang yang hanya berdansa meliut kerna angin. Jangan pula seperti ombak, yang hanya mengikut pasang surutnya lautan. Kita manusia Am. Seharusnya punya prinsip sendiri. Dan… prinsip yang teragung adalah dengan mengikut standar syariah! Ukurlah perbuatanmu itu dengan kebenaran hakiki. Jika benar kata syariat, maka lakukanlah. Jika sebaliknya, maka berundurlah… dan itu adalah sebaik-baik pilihan bagimu.

Tapi.. aku masih baru dalam organisasi ini Rul. Apakah aku pantas? Aku khawatir ada yang menyepelekan diriku, meremehkan pribadiku… dan mengatakan bahwa aku mengada-ada… padahal aku orang baru, anak baru… dan mengajiku juga masih baru.

Am, Am… Am! STOP. Aku risih dengan kata-katamu itu. Apakah kau tidak merasa BODOH dengan alasan konyol itu? Tidakkah kau sedar dengan kata-katamu itu, membuktikan kebenaran kata-kata seorang Ulama’ di dalam kitabnya yang mengatakan bahwa… salah satu sebab kegagalan sebuah organisasi adalah kerna wujudnya kasta-kasta, tingkat-tingkat dan bias standar di antara ahli dengan ahli lainnya. Dan jika hal itu berlaku… maka ia BAHAYA bagimu, juga bagi oraganisasimu.

Khairul semakin tajam dengan kata-katanya… ia menampan kalimat sahabatnya itu dengan maksud tidak setuju.

Tapi Rul, itulah yang berlaku. Iklim itu sudah berlaku terlalu lama, sehinggakan ramai yang merasakan sepertiku, tapi takut untuk menegur dan memuhasabah… kerna…

Amran… terhenti dari kata-katanya. Detik seakan bergeming, jam seolah-olah sedang berehat… Amran masih terpaku tidak meneruskan kata-katanya.

Kerna apa? Takut dimarahi! Jika dimarahi… apakah kau mudharat? Tersiksa? Atau… kau hanya khawatir pandangan manusia… tapi tidak khawatir pandangan Tuhan kita? Berhentilah daripada merendah-rendahkan dirimu, kerna itu mengaibkan dirimu sendiri dan orang lain yang sepertimu itu. Mulakanlah langkahmu. Tekadkan maksudmu. Bulatkan niatmu. Ingatlah Am, bahwa Allah tidak pernah tidur. Malaikat kiri kananmu tidak pernah leka. Kemenangan pasti berpihak kepada kebenaran Am. Itulah yang telah terukir dalam sejarah umat manusia. Tidak ada kamus yang mengatakan sebaliknya… dan itulah yang seharusnya kau fahami!

Iya, iya… kau benar Rul. Aku baru sadar hal itu. Sesungguhnya aku pelajari dan menyampaikan isi kata-katamu itu di dalam kelas-kelasku. Tapi… tidak semudah itu untuk melakukannya dan melaksanakannya. Kau sederhana Rul, tapi ilmumu seolah-olah menggunung daripada diriku. Aku salut padamu.

Jangan kau memuji. Kerna ia ibarat pedang yang bakal menusuk tubuhku.

Sungguh… kebenaran itu memang benar dari Allah SWT… namun ia lewat hamba-hambanya yang soleh. Dan kini… kutemui kebenaran itu lewat dirimu Rul. Kini… kutahu, apa yang perlu aku lakukan sekarang.

Apakah kau sudah mantap?

Mantap insyaAllah!

Benar ni… kok suaranya masih lirih, sepertinya kurang mantap.

Ya iya laaa… kok nggak yakin denganku setelah kau pancing emosiku.

Ah… kapan aku pancing emosimu… kau saja yang terpancing… padahal pancingku bukan buatmu… tetapi buat orang lain yang istimewa buatku… gitu deh….

Haha… ada-ada aja kau ini….

Malam itu, Amran mendapat jawapan. Gerimis yang turun di balik jendela… seakan kencana rahmat untuk makhluk yang sedang memuji kebesaran tuhannya.

”Jangan Tegur Diriku…”, Kalimat itu pasti tersingkap dengan pendirian Amran yang tersingkap bulat. Niatnya kukuh dan rapi. Langkahnya demikian tegar kini, tanpa adanya was-was dari syaitan yang membisik di hati dan fikirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: